Menjelang akhir kuartal II 2026, PT Bank Central Asia Tbk membukukan laba bersih bank only Rp 25,68 triliun hingga Mei, naik 2,07% secara tahunan. Kenaikan ini lebih lambat dibanding pertumbuhan 3% pada bulan sebelumnya, seiring pendapatan bunga bersih yang turun tipis dan ekspansi kredit yang tetap terbatas.
Sorotan
- Laporan BCA per Mei 2026 menunjukkan Net Interest Income turun 0,5% yoy ke Rp 32,95 triliun akibat beban bunga naik 5,41% menjadi Rp 5,45 triliun.
- Penyaluran kredit BCA tumbuh 4,85% yoy menjadi Rp 969,09 triliun, sementara total aset naik 8,57% ke Rp 1.592,98 triliun hingga Mei 2026.
- Dana pihak ketiga naik 8,8% yoy ke Rp 1.256,84 triliun, didorong giro tumbuh 16,78% dan tabungan 7,81%, meski deposito turun 3,85%.
Kinerja pendapatan dan beban hingga Mei 2026
Seperti diberitakan KONTAN, laporan bulanan BCA yang dikutip pada Selasa, 16 Juni 2026, menunjukkan perlambatan profitabilitas bank di tengah tekanan pada pendapatan bunga bersih. NII BCA turun 0,5% secara tahunan menjadi Rp 32,95 triliun, karena pendapatan bunga hanya naik 0,3% menjadi Rp 38,4 triliun sementara beban bunga meningkat 5,41% menjadi Rp 5,45 triliun.Dari sisi operasional lain, BCA menurunkan beban impairment 13,62% secara tahunan menjadi Rp 1,21 triliun. Penurunan itu ikut mendorong beban operasional lainnya susut 39,41% menjadi Rp 1,55 triliun.
Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi tumbuh 9,2% menjadi Rp 8,44 triliun, namun kenaikan ini belum menutup pelemahan pada pos pendapatan operasional lain. Salah satunya, pendapatan dividen turun 11,65% secara tahunan menjadi Rp 1,93 triliun, sehingga laba operasional hanya naik 2,76% menjadi Rp 31,4 triliun.
Pertumbuhan kredit dan dana murah menopang neraca
Dari fungsi intermediasi, penyaluran kredit BCA tumbuh 4,85% secara tahunan menjadi Rp 969,09 triliun hingga Mei 2026. Pada saat yang sama, total aset bank meningkat 8,57% menjadi Rp 1.592,98 triliun.Dana pihak ketiga tumbuh 8,8% secara tahunan menjadi Rp 1.256,84 triliun, dengan pertumbuhan terutama ditopang dana murah. Giro naik 16,78% menjadi Rp 444,32 triliun dan tabungan bertambah 7,81% menjadi Rp 625,37 triliun, sedangkan deposito turun 3,85% menjadi Rp 187,13 triliun.
Komposisi penghimpunan dana tersebut menunjukkan BCA masih menjaga basis likuiditas berbiaya rendah di tengah lingkungan suku bunga yang tinggi. Namun, perlambatan laba dan pertumbuhan kredit yang lebih terbatas menandakan tekanan margin masih membayangi kinerja perbankan besar pada periode berjalan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja perbankan BTN hingga Mei 2026, kami mencatat lonjakan laba bersih konsolidasi menjadi Rp1,85 triliun, seiring net interest income yang tumbuh 15,15% yoy menjadi Rp7,13 triliun. Kami juga menyoroti ekspansi kredit dan pembiayaan menjadi Rp403,06 triliun serta pertumbuhan DPK menjadi Rp433,95 triliun, yang ikut mengangkat laba operasional dan PPOP di level konsolidasi.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto