Normalisasi Selat Hormuz diperkirakan menekan harga BBM non subsidi dan risiko PHK di Indonesia
Rencana pembukaan kembali Selat Hormuz setelah kesepahaman awal damai antara U.S. dan Iran dinilai dapat meredakan tekanan energi yang membebani ekonomi Indonesia. Perubahan ini berpotensi mendorong penyesuaian harga BBM non subsidi dalam waktu dekat sekaligus membantu pemulihan industri yang tertekan oleh kenaikan biaya produksi.
Sorotan
- Normalisasi Selat Hormuz menekan harga BBM non subsidi di Indonesia, seiring membaiknya suplai energi global setelah sekitar tiga setengah bulan penutupan.
- Harga minyak yang sempat melampaui 100 dollar AS per barrel pada Mei 2026 memicu pemerintah membahas skenario fiskal untuk menghindari defisit anggaran di atas 3 persen.
- Jumlah PHK di industri Indonesia pada Mei naik 52 persen atau sekitar 30.000 orang, namun risiko ini diperkirakan mereda dengan turunnya biaya energi pasca normalisasi.
Dampak normalisasi terhadap energi dan fiskal
Seperti diberitakan Kompas.com, ekonom Institute for Development of Economics and Finance, INDEF, Abra Talattov mengatakan normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi faktor penting bagi penurunan tekanan harga energi di dalam negeri. Dalam acara Satu Meja The Forum di Kompas TV pada Rabu, 24 Juni 2026, ia menyatakan masyarakat kini menunggu penyesuaian harga BBM non subsidi seiring membaiknya kondisi pasokan global.Abra menjelaskan penutupan Selat Hormuz selama sekitar tiga setengah bulan menjadi sumber utama tekanan krisis energi dunia yang kemudian berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional. Saat harga minyak mentah melampaui 100 dollar AS per barrel pada Mei, pemerintah juga sempat mencermati risiko lonjakan subsidi energi terhadap ketahanan anggaran negara.
Menurut Abra, pemerintah pada April bahkan menggelar pembahasan di level tinggi dan menyusun sejumlah skenario fiskal. Kekhawatiran saat itu berpusat pada kemungkinan defisit anggaran melewati 3 persen apabila beban subsidi BBM terus bertambah.
Efek ke industri dan tenaga kerja
Ia menambahkan stabilitas energi dari kembali normalnya Selat Hormuz menjadi kunci bagi sektor industri untuk memulihkan kegiatan usaha dan menyerap kembali tenaga kerja. Penurunan biaya input produksi, terutama energi, dinilai dapat memperbaiki ruang pemulihan perusahaan yang sebelumnya tertekan.Abra menyebut jumlah PHK pada Mei bertambah 52 persen atau sekitar 30.000 orang. Dengan biaya energi yang lebih rendah, tekanan terhadap operasional industri berpotensi mereda sehingga laju PHK dapat berkurang.
Dalam konteks yang lebih luas, negosiasi putaran pertama antara U.S. dan Iran di Swiss pada Senin, 22 Juni 2026, telah selesai dan menghasilkan sejumlah kesepahaman awal. Wakil Presiden U.S. JD Vance mengatakan pembicaraan itu membangun fondasi yang sukses untuk mencapai kesepakatan akhir guna mengakhiri perang.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang turunnya harga minyak Brent setelah aliran tanker kembali lebih lancar di Selat Hormuz, kami menjelaskan bagaimana premi risiko perang cepat menguap seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan. Perubahan ini membuat pasar beralih dari ketakutan kekurangan pasokan menjadi kekhawatiran kelebihan pasokan, meski risiko di jalur tersebut disebut belum sepenuhnya hilang karena masih ada peringatan dari pihak Iran.
Berita Labor Market Terbaru
- Forex
- Crypto