MAMI nilai prospek pasar keuangan membaik, investor tunggu konsistensi kebijakan

MAMI nilai prospek pasar keuangan membaik, investor tunggu konsistensi kebijakan
Prospek pasar membaik

Prospek pasar keuangan domestik mulai menunjukkan perbaikan setelah pemerintah merekalibrasi sejumlah kebijakan dan Bank Indonesia memperkuat langkah stabilisasi rupiah. Namun, pemulihan kepercayaan investor masih bergantung pada konsistensi pelaksanaan kebijakan fiskal dan moneter hingga akhir 2026.

Sorotan

  • BI menaikkan BI Rate total 50 basis poin pada Juni 2026 untuk menahan volatilitas rupiah dan menjaga kredibilitas, dengan potensi kenaikan lanjutan hingga akhir tahun.
  • Inflasi year to date hingga Juni 2026 naik ke 1,79%, penjualan ritel terkontraksi dua bulan berturut-turut, dan PMI manufaktur turun ke 46,9.
  • Pemerintah meluncurkan stimulus ekonomi semester II-2026 senilai Rp 26,34 triliun dan spread obligasi negara tenor 10 tahun melebar ke 273 basis poin per akhir Juni.

Sinyal kebijakan dan arah pasar 2026

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja mengatakan pasar saham, obligasi, dan rupiah masih dibayangi volatilitas tinggi meski sejak Juni 2026 pemerintah mulai mengirimkan sinyal yang lebih ramah pasar. Kebijakan yang menjadi sorotan mencakup penurunan anggaran program Makan Bergizi Gratis, pengurangan target pembentukan Koperasi Desa dari 80.000 menjadi 40.000 unit, pembatalan rencana skema bagi hasil minerba, serta penegasan peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia dalam wacana ekspor satu pintu.

Freddy dalam riset yang diterima pada Rabu, 8 Juli 2026, juga menyoroti komitmen pemerintah menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3% terhadap PDB. Dari sisi moneter, BI menaikkan BI Rate 50 basis poin pada Juni, termasuk kenaikan 25 basis poin dalam rapat di luar jadwal biasa, untuk memperkuat prioritas stabilitas rupiah.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga kredibilitas dan independensi BI sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik. MAMI juga memperkirakan BI Rate masih berpotensi naik lagi hingga akhir 2026 apabila tekanan terhadap stabilitas rupiah berlanjut.

Ia menilai orientasi kebijakan yang menitikberatkan stabilitas mulai tercermin pada pergerakan rupiah yang lebih tenang sepanjang Juni, setelah sebelumnya tertekan. Perbaikan itu juga didukung oleh meredanya kebutuhan valas untuk pembayaran dividen serta berakhirnya musim haji, meski rupiah tetap rentan terhadap perkembangan geopolitik, arah suku bunga Federal Reserve, evaluasi peringkat utang Indonesia oleh S&P Global Ratings pada Juli hingga Agustus, dan konsistensi kebijakan pemerintah.

Jika faktor-faktor tersebut bergerak positif, MAMI memproyeksikan kurs rupiah terhadap dolar AS dapat berada di kisaran Rp 17.500 pada akhir 2026.

Tantangan ekonomi dan strategi investasi

Di sisi ekonomi domestik, Freddy melihat tantangan membesar pada kuartal II-2026. Inflasi mencapai 1,79% secara year to date hingga akhir Juni, lebih tinggi dari 1,38% pada periode yang sama tahun lalu, sementara penjualan ritel terkontraksi dua bulan berturut-turut, turun 3,7% pada April dan 3,2% pada Mei.

Perlambatan konsumsi juga terlihat pada manufaktur, dengan PMI manufaktur Indonesia turun ke 46,9 pada Juni, level terendah sejak Juni 2025. Merespons kondisi itu, pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi semester II-2026 senilai Rp 26,34 triliun yang meliputi bantuan pangan, insentif transportasi, serta program magang dan vokasi.

Dari pasar obligasi, MAMI menilai valuasi surat berharga negara sudah cukup menarik. Hingga akhir Juni, spread obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun terhadap U.S. Treasury tenor serupa mencapai 273 basis poin, lebih lebar dari rata-rata satu tahun terakhir sekitar 220 basis poin.

Meski begitu, investor masih menunggu kejelasan mengenai stabilitas rupiah, arah BI Rate, dan disiplin fiskal pemerintah. Freddy menambahkan meredanya ketegangan geopolitik dan normalisasi harga minyak dunia dapat menjadi katalis positif bagi sentimen pasar keuangan domestik.

Untuk strategi investasi, ia menyarankan pendekatan yang selektif dan disiplin dalam alokasi portofolio. Kenaikan imbal hasil obligasi dinilai membuka peluang akumulasi bertahap jika stabilitas rupiah terjaga, sedangkan di pasar saham investor disarankan mengutamakan emiten dengan fundamental kuat, sambil tetap mencermati tema struktural seperti rantai pasok AI dan industri semikonduktor di Asia.

Pelemahan rupiah hingga sempat menembus Rp18.000 per dolar AS menjadi sorotan dalam laporan kami sebelumnya, yang menekankan kuatnya pengaruh sinyal kebijakan moneter The Fed dan lonjakan indeks dolar AS (DXY) terhadap pasar domestik. Bank Indonesia menjelaskan bahwa ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi mendorong penguatan dolar dan meningkatkan sensitivitas rupiah, sehingga pelaku pasar perlu mewaspadai transmisi kebijakan The Fed terhadap stabilitas nilai tukar dan biaya valas.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.