Indonesia percepat swasembada gula lewat peremajaan tebu dan target produksi 3 juta ton

Indonesia percepat swasembada gula lewat peremajaan tebu dan target produksi 3 juta ton
Swasembada gula dipercepat

Pemerintah mempercepat program swasembada gula putih nasional dalam dua tahun sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Langkah itu dibarengi target produksi gula nasional menembus 3 juta ton pada 2029 melalui peremajaan kebun tebu, modernisasi budidaya, dan transformasi industri gula.

Sorotan

  • Kementerian Pertanian mengalokasikan sekitar Rp9 triliun untuk peremajaan 298 ribu hektare tebu, penyediaan bibit unggul, dan alat pertanian modern.
  • Pemerintah memperkuat tata kelola industri gula dari hulu hingga hilir, termasuk optimalisasi tetes tebu untuk bahan baku bioetanol dan regulasi kemitraan petani-pabrik.
  • Kinerja SGN membaik dari kerugian sekitar Rp600 miliar tahun lalu ke potensi laba Rp600 miliar tahun ini, dengan target keuntungan minimal Rp750 miliar pada 2025.

Strategi percepatan produksi dan peremajaan tebu

Menurut Kementerian Pertanian Indonesia, percepatan swasembada gula menjadi fokus utama setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memimpin rapat dengan manajemen PT Sinergi Gula Nusantara di Surabaya pada 22 Juli. Dalam pertemuan itu, kementerian menegaskan tanaman ratoon yang telah berumur 7 tahun hingga 15 tahun akan dibongkar dan diremajakan, dengan biaya peremajaan ditanggung pemerintah agar petani tidak menanggung tambahan beban.

Kementerian juga menyiapkan alokasi anggaran sekitar Rp9 triliun untuk sektor perkebunan, termasuk penyediaan bibit unggul gratis, pengolahan lahan, dan program peningkatan produktivitas. Dukungan tambahan alat dan mesin pertanian, termasuk traktor bagi petani plasma, juga disiapkan untuk tahun depan guna mendorong hasil panen tebu.

Program percepatan yang disusun bersama SGN mencakup pembongkaran ratoon di sekitar 298 ribu hektare lahan tebu, pembangunan sistem irigasi pompa, modernisasi alat dan mesin pertanian, penyediaan pupuk, revitalisasi pabrik gula melalui elektrifikasi, penataan varietas dan pola tanam, serta penerapan teknologi untuk meningkatkan rendemen.

Dampak bagi industri gula dan petani tebu

Selain mendorong produksi di tingkat kebun, pemerintah juga memperkuat tata kelola industri gula dari hulu hingga hilir. Langkah itu meliputi penguatan regulasi kemitraan antara petani dan pabrik gula, implementasi Cadangan Pangan Pemerintah gula, serta optimalisasi tetes tebu sebagai bahan baku bioetanol untuk mendukung transisi energi nasional.

Kementerian menilai Indonesia masih memiliki potensi besar untuk pengembangan lahan tebu di Sumatera, Jawa, Sulawesi, hingga Maluku. Perluasan areal tanam ini diharapkan meningkatkan kapasitas produksi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor gula.

Amran juga menyoroti perbaikan kinerja SGN, yang menurutnya bergerak dari kerugian sekitar Rp600 miliar pada tahun lalu menuju potensi laba sekitar Rp600 miliar tahun ini. Ia memasang target keuntungan minimal Rp750 miliar pada tahun depan, sambil menegaskan bahwa kepentingan petani akan tetap dilindungi dan setiap penyimpangan dalam pelaksanaan program pemerintah akan ditindak tegas.

Program percepatan peremajaan tebu untuk swasembada gula putih sebelumnya kami soroti sebagai langkah pemerintah membongkar tanaman ratoon yang sudah tidak produktif (hingga usia 15 tahun) dan menggantinya dengan tebu baru, dengan biaya ditanggung negara agar petani tidak terbebani. Ulasan itu juga menekankan dukungan anggaran sekitar Rp9 triliun untuk bibit unggul gratis, pengolahan lahan, peningkatan produktivitas, serta penambahan alsintan seperti traktor untuk petani plasma demi mendongkrak hasil panen.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.