Citi Indonesia catat pertumbuhan kredit, pipeline semester II 2026 capai Rp 5 triliun

Citi Indonesia catat pertumbuhan kredit, pipeline semester II 2026 capai Rp 5 triliun
Citi Indonesia kredit naik

Setelah sempat mencatat koreksi penyaluran kredit pada beberapa periode sebelumnya, Citi Indonesia membukukan pemulihan pertumbuhan pada kuartal II-2026. Hingga Juni 2026, kredit bank ini mencapai Rp 29,9 triliun, naik 8,05% secara tahunan, didukung rencana penyaluran baru pada semester kedua yang disebut kuat.

Sorotan

  • Citi Indonesia menargetkan penyaluran kredit sebesar Rp 5 triliun pada semester II 2026, dengan 50% diarahkan ke korporasi lokal.
  • Dana pihak ketiga tumbuh 23,29% yoy menjadi Rp 72,6 triliun pada Juni 2026, didominasi dana perusahaan multinasional dengan loan to deposit ratio 37,96%.
  • Laba bersih semester I-2026 turun 25,45% yoy menjadi Rp 993,89 miliar, tertekan rugi penjualan aset keuangan Rp 207,22 miliar dan rugi valas Rp 220,12 miliar.

Pertumbuhan kredit dan rencana penyaluran

KONTAN melaporkan, capaian hingga Juni 2026 itu membuat manajemen Citi Indonesia optimistis target pertumbuhan kredit di level single high digit dalam rencana bisnis bank tahun ini dapat tercapai.

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan pipeline penyaluran kredit pada paruh kedua 2026 berada di kisaran Rp 5 triliun. Sekitar 50% dari pipeline tersebut diarahkan ke korporasi lokal, sementara sisanya untuk korporasi multinasional, commercial banking, dan trade loan.

Tiga sektor utama dalam pipeline itu meliputi telekomunikasi, institusi keuangan, serta tambang dan konstruksi. Selain itu, Citi Indonesia juga melihat peluang pada sektor ritel dan kimia.

Likuiditas kuat, laba bersih masih tertekan

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga Citi Indonesia tumbuh 23,29% secara tahunan menjadi Rp 72,6 triliun, dengan rasio loan to deposit ratio berada di level 37,96%. Batara menjelaskan struktur pendanaan bank didominasi perusahaan multinasional, yang menyumbang sekitar 80% hingga 90% dari dana pihak ketiga, termasuk dari U.S., Europe, dan Asia.

Meski kredit dan likuiditas membaik, profitabilitas bank masih tertekan pada semester I-2026. Laba bersih Citi Indonesia turun 25,45% secara tahunan menjadi Rp 993,89 miliar, sementara pendapatan bunga bersih turun 5,18% menjadi Rp 2,01 triliun.

Menurut manajemen, tekanan pada laba terutama berasal dari realisasi kerugian penjualan aset keuangan akibat volatilitas pasar. Dalam periode ini, bank mencatat rugi penjualan aset keuangan sebesar Rp 207,22 miliar, berbalik dari laba Rp 152,67 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, serta rugi penjabaran transaksi valuta asing sebesar Rp 220,12 miliar, dari sebelumnya laba Rp 400,78 miliar.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang tren NPL dan hapus buku kredit perbankan pada semester I-2026, kami membahas bagaimana sejumlah bank besar mampu menjaga kualitas aset meski strategi penghapusbukuan berbeda-beda. Kami menyoroti bahwa rasio NPL gross di beberapa bank cenderung stabil atau menurun, seiring pengelolaan portofolio yang lebih hati-hati, penguatan proses analisis kredit, serta pemantauan risiko yang lebih ketat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.