Jaringan cabang bank di Indonesia menyusut saat digitalisasi mendorong efisiensi
Perubahan perilaku nasabah dan percepatan layanan digital mendorong bank-bank di Indonesia meninjau kembali ukuran serta fungsi jaringan kantor fisik mereka. Pada semester I 2026, jumlah kantor bank umum turun 49 unit menjadi 3.398 kantor, meski cabang tetap dibutuhkan untuk transaksi bernilai besar dan layanan tatap muka.
Sorotan
- Jumlah kantor bank umum di Indonesia turun 1,42% dari 3.447 unit pada Januari 2026 menjadi 3.398 unit enam bulan kemudian akibat digitalisasi.
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk dan PT Bank CIMB Niaga Tbk mengurangi cabang masing-masing dari 282 menjadi 266, dan dari 395 menjadi 383, hingga Juni 2026.
- PT Bank Central Asia Tbk menambah jaringan kantor dari 1.264 menjadi 1.272 unit antara Juni 2025 dan Juni 2026, berbeda dari tren industri yang menyusut.
Perubahan jaringan cabang pada semester I 2026
Seperti dilaporkan Kontan, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan jumlah kantor bank umum di Indonesia tercatat 3.447 unit pada Januari 2026 dan turun menjadi 3.398 unit enam bulan kemudian. Penyusutan 49 kantor atau sekitar 1,42% itu terjadi ketika bank mempercepat penyesuaian jaringan fisik di tengah pertumbuhan penggunaan layanan perbankan digital.PT Bank Maybank Indonesia Tbk menjadi salah satu bank yang mengurangi jumlah cabang. Hingga Juni 2026, Maybank Indonesia memiliki 266 kantor cabang, turun dari 282 cabang pada Juni 2025, termasuk cabang syariah dan satu kantor cabang luar negeri di Mumbai, India.
Direktur Operations Maybank Indonesia Widya Permana mengatakan perubahan jumlah cabang mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan perilaku nasabah. Menurut dia, fungsi kantor cabang kini semakin diarahkan untuk layanan advisory, termasuk diskusi investasi serta pilihan produk dan layanan yang memberi nilai tambah bagi nasabah.
Meskipun demikian, kantor cabang masih dinilai relevan untuk sejumlah kebutuhan. Transaksi seperti setor dan tarik tunai, penggunaan cek dan giro, serta kebutuhan bantuan langsung dari nasabah lanjut usia masih menopang peran layanan fisik.
Dampak efisiensi dan respons masing-masing bank
Direktur IT and Operations KB Bank Yungki Prabowo mengatakan transformasi digital pada akhirnya memengaruhi ukuran dan fungsi kantor cabang. Menurut dia, keberadaan jaringan cabang perlu dinilai dari efisiensi operasional agar bank dapat menjaga pendapatan dan daya tahan bisnis.Ia menambahkan berbagai fungsi transaksi yang sebelumnya dilakukan di kantor cabang kini dapat dialihkan ke kanal digital. Perubahan ini membuka ruang bagi bank untuk merancang kantor cabang yang lebih kecil dengan kebutuhan sumber daya yang lebih terbatas, meski keberadaan cabang sepenuhnya belum tentu hilang.
Penyesuaian jaringan juga terlihat di PT Bank CIMB Niaga Tbk, yang menurunkan jumlah kantor cabang dan jaringan dari 395 unit pada Juni 2025 menjadi 383 unit pada Juni 2026. Jumlah Digital Lounge milik CIMB Niaga juga turun dari 34 unit menjadi 28 unit dalam periode yang sama.
Namun tren ini tidak merata di seluruh industri. PT Bank Central Asia Tbk justru menambah jaringan kantornya dari 1.264 cabang pada Juni 2025 menjadi 1.272 cabang pada Juni 2026, menandakan bahwa sebagian bank masih melihat ekspansi cabang sebagai bagian dari strategi layanan dan pertumbuhan.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang pertumbuhan transaksi pembayaran digital di perbankan Indonesia hingga 2026, kami menyoroti lonjakan transaksi digital nasional yang terus menguat dan tercermin di sejumlah bank besar. BTN dan Bank Mandiri memperluas ekosistem serta kapabilitas aplikasi digital mereka untuk mendorong frekuensi transaksi, memperkuat keterikatan nasabah, dan menopang pendapatan berbasis komisi seiring meningkatnya penggunaan kanal noncabang.
Berita Company News Terbaru
- Forex
- Crypto