CIMB Niaga catat laba bersih turun 15,5% hingga September 2026

CIMB Niaga catat laba bersih turun 15,5% hingga September 2026
Laba CIMB Niaga Turun

Kinerja PT Bank CIMB Niaga Tbk melemah pada sembilan bulan pertama 2026 di tengah tekanan pada pendapatan bunga bersih dan kenaikan beban pencadangan. Di saat yang sama, bank ini masih membukukan pertumbuhan kredit dua digit serta perbaikan kualitas aset hingga akhir September 2026.

Sorotan

  • CIMB Niaga membukukan laba bersih konsolidasian Rp 4,5 triliun per September 2026, turun 15,5% yoy dari Rp 5,33 triliun.
  • Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan meningkat 88,4% yoy menjadi Rp 2,37 triliun, menekan profitabilitas meski pendapatan bunga bersih hanya turun 2,2%.
  • Penyaluran kredit naik 13,3% yoy ke Rp 193,14 triliun dan total aset tumbuh 4,2% ke Rp 384,79 triliun, sementara NPL gross membaik ke 1,81%.

Kinerja laba dan beban pencadangan

Menurut Kontan, mengutip Keterbukaan Informasi BEI pada Rabu, CIMB Niaga membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 4,5 triliun per September 2026, turun 15,5% secara tahunan dari Rp 5,33 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Laba operasional perseroan juga turun 12,6% menjadi Rp 5,75 triliun dari Rp 6,58 triliun. Penurunan ini terjadi seiring pendapatan bunga bersih yang menyusut 2,2% menjadi Rp 9,86 triliun dari Rp 10,08 triliun.

Dari sisi biaya, beban kerugian penurunan nilai aset keuangan meningkat 88,4% secara tahunan menjadi Rp 2,37 triliun, dibandingkan Rp 1,26 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan kredit dan kualitas aset

Meski laba tertekan, kualitas kredit CIMB Niaga membaik. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan gross turun menjadi 1,81% per September 2026 dari 1,98% setahun sebelumnya, sedangkan NPL net membaik menjadi 0,73% dari 0,80%.

Penyaluran kredit konsolidasian tercatat Rp 193,14 triliun, naik 13,3% secara tahunan dari Rp 170,43 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga mencapai Rp 273,73 triliun, terdiri dari giro Rp 109,20 triliun, tabungan Rp 87,85 triliun, dan deposito Rp 76,69 triliun.

Total aset CIMB Niaga naik 4,2% menjadi Rp 384,79 triliun per September 2026, dari Rp 369,45 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Angka ini menunjukkan pertumbuhan neraca tetap berlanjut meski profitabilitas perseroan tertekan sepanjang tahun berjalan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pergeseran strategi bank besar yang makin mengandalkan fee-based income di tengah tekanan pendapatan bunga bersih, kami menyoroti bahwa pertumbuhan pendapatan komisi di sejumlah bank melampaui kenaikan NII hingga Agustus 2026. Untuk CIMB Niaga, fokus pengembangan revenue diarahkan ke pendapatan nonbunga—terutama wealth management—dengan fee-to-income ratio sudah di atas 32%, sebagai upaya menjaga kinerja ketika margin bunga tertekan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.