Yulia Slavina

Bank-bank besar Indonesia dorong pertumbuhan bisnis lewat transaksi digital

Bank-bank besar Indonesia dorong pertumbuhan bisnis lewat transaksi digital
Digital banking transaction surge

Pertumbuhan transaksi pembayaran digital di Indonesia terus memperkuat peran kanal digital sebagai pendorong dana murah, pendapatan komisi, dan keterikatan nasabah perbankan. Hingga sembilan bulan 2026, volume transaksi pembayaran digital nasional mencapai 48,98 miliar transaksi, naik 38,28% secara tahunan, sementara sejumlah bank besar mencatat kenaikan transaksi dan pengguna di platform masing-masing.

Sorotan

  • Volume transaksi pembayaran digital nasional naik 38,28% yoy menjadi 48,98 miliar selama sembilan bulan 2026, menopang dana dan fee based income bank besar.
  • Nilai transaksi Bale by BTN tumbuh 44% yoy dan pengguna wondr by BNI melonjak 58% yoy, mendorong pertumbuhan dana murah serta pendapatan komisi dan nonbunga.
  • Bank Mandiri mencatat total nilai transaksi digital Livin’ dan Kopra mencapai Rp 26.664 triliun per September 2026, memperkuat pendapatan bunga dan nonbunga serta laba berulang.

Kinerja transaksi digital menopang dana dan pendapatan

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, data Bank Indonesia menunjukkan volume transaksi pembayaran digital nasional mencapai 48,98 miliar transaksi sepanjang sembilan bulan 2026, mencerminkan kenaikan 38,28% secara tahunan. Di tingkat bank, lonjakan penggunaan kanal digital semakin terlihat dalam pertumbuhan nilai transaksi, basis pengguna, serta kontribusinya terhadap penghimpunan dana dan fee based income.

Di Bank Tabungan Negara, jumlah transaksi aplikasi Bale by BTN naik 46% yoy dengan nilai transaksi meningkat 44% yoy per September 2026. Aplikasi itu telah memiliki 5 juta pengguna setelah sekitar satu setengah tahun diluncurkan. SVP Digital Business BTN Tresia Sarumpaet mengatakan penghimpunan dana tabungan melalui ekosistem digital bank tumbuh sekitar 30% yoy, sementara pendapatan komisi naik 42% yoy.

Tresia menyebut transaksi yang banyak digunakan nasabah meliputi transfer melalui BI-FAST, transfer antar rekening BTN dan antarbank, pembayaran dengan QRIS, pembelian token listrik, pembayaran tagihan seperti PDAM, serta top up e-wallet. BTN menyatakan akan terus mendorong pertumbuhan transaksi digital melalui pengembangan fitur, peningkatan kualitas layanan, program promosi, dan perluasan ekosistem.

BNI juga mencatat pertumbuhan di dua platform utamanya. Sepanjang kuartal III-2026, nilai transaksi wondr by BNI untuk nasabah ritel naik 25% yoy menjadi Rp 1.774 triliun, sedangkan transaksi BNIdirect pada segmen bisnis dan korporasi tumbuh 16% yoy menjadi Rp 9.324 triliun.

Dari sisi pengguna, wondr by BNI digunakan oleh 16,6 juta nasabah, naik 58% yoy, sementara BNIdirect memiliki 293 ribu pengguna, tumbuh 19% yoy. Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan pertumbuhan aktivitas pada platform digital turut mendukung dana murah BNI, yang hingga kuartal III tumbuh 19,6% yoy menjadi Rp 733,7 triliun, sehingga memperkuat ruang bank untuk menjaga fungsi intermediasi.

Dampak ke strategi bank dan persaingan layanan

Bank Mandiri melaporkan nilai transaksi Livin’ by Mandiri pada segmen ritel mencapai Rp 3.863 triliun per September 2026, naik 20% yoy. Pada segmen korporasi, nilai transaksi Kopra by Mandiri mencapai Rp 22.801 triliun, meningkat 17% yoy, dengan masing-masing platform memiliki 42,6 juta dan 406 ribu pengguna terdaftar.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan capaian transaksi digital ikut memperkuat pendapatan bank, baik dari transaksi maupun dari dorongan ke penyaluran kredit. Dalam periode yang sama, pendapatan bunga Bank Mandiri naik 7,08% yoy menjadi Rp 97,3 triliun, sementara pendapatan nonbunga meningkat 13,8% yoy menjadi Rp 29,4 triliun. Menurut Novita, fee based income menjadi penopang penting untuk menjaga pertumbuhan laba karena aktivitas transaksi yang lebih tinggi menciptakan pendapatan berulang yang lebih besar.

Perkembangan ini menunjukkan persaingan kanal digital perbankan tidak lagi hanya berfokus pada kemudahan transaksi, tetapi juga pada kemampuan membangun ekosistem layanan yang lebih luas. Bank-bank besar kini mengintegrasikan tabungan, pembayaran, pembiayaan, investasi, dan kebutuhan gaya hidup dalam satu aplikasi, sambil menjaga keandalan operasional, sistem, dan infrastruktur untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang meningkatnya ketergantungan bank-bank besar pada fee-based income, kami mencatat pendapatan komisi di sejumlah bank tumbuh lebih cepat daripada net interest income ketika margin bunga tertekan. Artikel itu juga menyoroti bahwa sumber fee makin banyak datang dari aktivitas transaksi dan layanan digital, meski membutuhkan investasi teknologi dan pemasaran agar pertumbuhannya tetap efisien.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.