Saham bank besar Indonesia bergerak beragam, BBCA pimpin net buy asing

Saham bank besar Indonesia bergerak beragam, BBCA pimpin net buy asing
BBCA pimpin beli asing

Perdagangan sesi I pada Rabu, 28 Oktober 2026, menunjukkan tekanan pada saham bank-bank Himbara ketika beberapa bank swasta justru menguat di tengah rotasi investor. Arus dana asing mempertegas pergeseran itu, dengan penjualan bersih terkonsentrasi di BMRI, BBRI, dan BBNI, sementara BBCA menjadi tujuan beli utama.

Sorotan

  • BMRI turun 2,07% ke Rp 3.790, BBRI turun 1,38% ke Rp 2.860, sedangkan BBCA naik 3,57% ke Rp 5.075 pada sesi I 28 Oktober 2026.
  • Investor asing membukukan net sell Rp 172,09 miliar di sesi I, dengan net buy terbesar di BBCA sebesar Rp 491,16 miliar.
  • BMRI, BBNI, dan BBCA melaporkan pertumbuhan laba bersih masing-masing 20,7%, 6,62%, dan 4,2% secara tahunan hingga September 2026.

Pergerakan saham dan arus dana sesi I

Seperti dilaporkan KONTAN, saham bank-bank besar milik negara melemah pada perdagangan sesi I Rabu, 28 Oktober 2026, setelah pasar mencermati rilis kinerja kuartal III-2026 dari sejumlah emiten perbankan. BMRI mencatat penurunan terdalam di kelompok ini, turun 2,07% ke Rp 3.790, diikuti BBRI yang melemah 1,38% ke Rp 2.860 dan BBNI yang turun 0,60% ke Rp 3.290.

Di sisi lain, beberapa saham bank swasta bergerak di zona hijau. BBCA naik 3,57% ke Rp 5.075, sedangkan BNGA menguat 0,98% ke Rp 1.540 per saham.

Investor asing mencatatkan net sell Rp 172,09 miliar pada sesi I. BMRI menjadi saham yang paling banyak dilepas asing dengan nilai net sell Rp 168,81 miliar, disusul BBRI sebesar Rp 83,38 miliar dan BBNI senilai Rp 56,22 miliar. Berlawanan dengan pola itu, BBCA menjadi incaran investor asing dengan net buy mencapai Rp 491,16 miliar.

Kinerja kuartal III menopang fundamental perbankan

Pergerakan harga tersebut berlangsung setelah publikasi kinerja hingga September 2026 dari sejumlah bank besar, yang secara umum masih menunjukkan fundamental operasional yang kuat. BMRI membukukan laba bersih Rp 45,5 triliun, naik 20,7% secara tahunan, dengan pertumbuhan kredit bank only 16% menjadi Rp 1.605,83 triliun, loan to deposit ratio 91,2%, dan non-performing loan 0,98%.

BBNI mencatat laba bersih Rp 16,11 triliun, tumbuh 6,62% secara tahunan, sementara kredit naik 22,2% menjadi Rp 992,5 triliun. Kualitas asetnya juga membaik, dengan NPL gross turun dari 2% menjadi 1,9% dan rasio loan at risk menjadi 7,8%.

BBCA membukukan laba bersih Rp 45,2 triliun atau tumbuh 4,2% secara tahunan, dengan kredit mencapai Rp 1.063 triliun, naik 12,6%. Rasio loan at risk dan NPL masing-masing berada di 4,6% dan 1,8%. Sementara itu, BNGA mencatat laba bersih Rp 4,5 triliun, turun 15,5% secara tahunan, meski kredit masih tumbuh 13,3% menjadi Rp 193,14 triliun dan NPL gross tercatat 1,81%.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang pergerakan saham bank-bank besar pada penutupan perdagangan 15 Oktober 2026, mayoritas emiten perbankan berkapitalisasi besar masih bertahan di zona hijau meski IHSG terkoreksi. Ulasan itu juga menyoroti tekanan pada BBCA yang dikaitkan dengan pelemahan rupiah dan naiknya ekspektasi suku bunga global, sebagai faktor yang membentuk sentimen investor terhadap sektor perbankan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.