BTN bidik pasar rumah sekunder untuk menopang pertumbuhan KPR pada 2026

BTN bidik pasar rumah sekunder untuk menopang pertumbuhan KPR pada 2026
BTN bidik rumah sekunder

Perlambatan permintaan properti hingga pertengahan 2026 mendorong PT Bank Tabungan Negara Tbk memperluas fokus pembiayaan ke pasar rumah sekunder. Di tengah pelemahan segmen rumah baru, strategi ini diarahkan untuk menjaga pertumbuhan KPR sekaligus membuka sumber bisnis baru melalui pembelian rumah bekas, renovasi, dan perluasan hunian.

Sorotan

  • Outstanding KPR BTN per Juni 2026 mencapai Rp 309,94 triliun, tumbuh 5,8% secara tahunan, melambat dari 7,4% pada tahun sebelumnya.
  • Pertumbuhan KPR nonsubsidi hanya 2%, turun drastis dari 8,8%, sedangkan KPR subsidi meningkat ke 8,1% dari 6,5% tahun lalu.
  • BTN agresif ekspansi ke pasar rumah sekunder dan kolaborasi dengan Pinhome serta Rumah123 untuk mendukung target pertumbuhan kredit 8–10% hingga akhir 2026.

Strategi ekspansi pembiayaan rumah sekunder

KONTAN melaporkan, BTN memperkuat strategi bisnis di pasar rumah sekunder setelah pertumbuhan KPR perseroan melambat hingga Juni 2026. Outstanding KPR BTN tercatat Rp 309,94 triliun pada periode tersebut, tumbuh 5,8% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 7,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perlambatan terutama terjadi pada segmen KPR nonsubsidi yang hanya tumbuh 2% secara tahunan, turun dari 8,8% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, KPR subsidi masih mencatat kinerja lebih kuat dengan pertumbuhan 8,1% hingga Juni 2026, meningkat dari 6,5% pada tahun sebelumnya.

Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu mengatakan pelemahan pasar primer dipengaruhi kendala pasokan perumahan, termasuk persoalan perizinan lahan di sejumlah daerah. Permintaan rumah baru, khususnya hunian dengan harga di atas Rp 1 miliar, juga masih cenderung stagnan.

Untuk merespons kondisi itu, BTN masuk lebih agresif ke pembiayaan pembelian rumah bekas, renovasi rumah, dan perluasan bangunan. Perseroan juga menggandeng platform digital properti seperti Pinhome dan Rumah123 untuk memperkuat penetrasi di segmen tersebut dan mempercepat proses pengajuan kredit.

Dampak terhadap target kredit dan sektor properti

Kolaborasi dengan platform digital diharapkan membantu BTN mempercepat proses kredit dan menjangkau lebih banyak calon debitur. Langkah ini juga memberi ruang bagi perseroan untuk menambah pertumbuhan pembiayaan di tengah lesunya pasar rumah primer.

Meski industri KPR masih menghadapi tantangan, BTN tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit keseluruhan pada kisaran 8% hingga 10% sampai akhir 2026. Manajemen menilai diversifikasi ke pasar rumah sekunder menjadi salah satu penopang utama untuk menjaga laju pembiayaan di tengah terbatasnya permintaan rumah baru dan dinamika sektor properti nasional.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang survei perbankan Bank Indonesia, kami membahas lonjakan penyaluran kredit baru pada triwulan II 2026 meski standar pemberian kredit cenderung diperketat. Kami juga menyoroti bahwa permintaan kredit konsumsi tetap kuat, terutama dari KPR/KPA, sementara BI memproyeksikan penyaluran kredit triwulan III masih ekspansif namun melambat dengan potensi pelonggaran pada plafon dan persyaratan agunan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.