Mega Insurance perkuat kemitraan dan seleksi risiko untuk dorong bisnis asuransi properti
Di tengah perlambatan sektor properti dan konstruksi, PT Asuransi Umum Mega menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga kinerja lini asuransi properti hingga akhir 2026. Upaya itu dilakukan saat premi properti perseroan turun 8% secara tahunan hingga Juni 2026, meski industri masih mencatat pertumbuhan premi.
Sorotan
- Mega Insurance memperkuat kolaborasi dengan broker dan bank serta menerapkan underwriting selektif guna menjaga profitabilitas dan kualitas portofolio hingga akhir 2026.
- Pendapatan premi asuransi properti Mega Insurance turun 8% per Juni 2026 akibat perlambatan pembiayaan properti dan penurunan permintaan perlindungan aset baru.
- AAUI mencatat premi asuransi properti industri naik 6,5% menjadi Rp 8,31 triliun per Maret 2026, namun klaim melonjak 34,7% menjadi Rp 2,64 triliun.
Strategi operasional hingga akhir 2026
Seperti dilaporkan KONTAN, Risk, Legal, and Compliance Director Mega Insurance Diang Edelina mengatakan perseroan memperkuat kerja sama dengan broker, bank, dan mitra bisnis lainnya melalui peningkatan kualitas layanan serta penyelesaian klaim. Perusahaan juga berupaya menjaga profitabilitas dengan menerapkan manajemen risiko yang prudent.Diang menyebut Mega Insurance tetap mewaspadai sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kinerja asuransi properti sampai akhir tahun ini. Faktor tersebut mencakup perlambatan sektor properti, ketidakpastian kondisi ekonomi global, dan potensi peningkatan risiko bencana alam yang dapat memengaruhi rasio klaim.
Menurut dia, tekanan pada lini properti juga dipengaruhi pelemahan pembiayaan properti yang berdampak pada menurunnya kebutuhan perlindungan atas aset dan proyek baru. Selain itu, perusahaan menerapkan proses underwriting yang lebih selektif untuk menjaga kualitas portofolio bisnis, rasio klaim, dan profitabilitas jangka panjang.
Tekanan perusahaan dan tren industri asuransi umum
Hingga Juni 2026, pendapatan premi lini usaha properti Mega Insurance turun 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meski perseroan tidak merinci nilai premi dari lini tersebut. Penurunan itu terjadi ketika segmen properti masih menjadi salah satu lini yang dipengaruhi perlambatan aktivitas di sektor riil.Di tingkat industri, data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, AAUI, menunjukkan premi asuransi properti naik 6,5% secara tahunan menjadi Rp 8,31 triliun per Maret 2026. Namun di saat yang sama, nilai klaim asuransi properti juga melonjak 34,7% secara tahunan menjadi Rp 2,64 triliun, menandakan tekanan risiko di lini ini tetap perlu diantisipasi oleh perusahaan asuransi umum.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penguatan sinergi BRI Insurance untuk mendorong pertumbuhan bisnis berkelanjutan, perusahaan menekankan strategi jangka panjang lewat tata kelola yang baik, peningkatan kualitas layanan, dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan nasabah. Liputan itu juga menyoroti bagaimana penguatan aspek-aspek tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing di tengah dinamika regulasi dan tuntutan kualitas layanan yang kian tinggi di industri asuransi umum.
Berita Company News Terbaru
- Forex
- Crypto