Produksi beras Indonesia menguat, pengadaan Bulog lampaui 4 juta ton

Produksi beras Indonesia menguat, pengadaan Bulog lampaui 4 juta ton
Produksi beras menguat 2025

Kenaikan produksi pangan nasional memperkuat pasokan beras dan jagung di tengah upaya pemerintah menjaga ketahanan pangan. Pada 2025, produksi beras untuk konsumsi penduduk mencapai 34,69 juta ton, sementara pengadaan beras domestik Bulog menembus 4,13 juta ton hingga 11 Oktober 2026.

Sorotan

  • Produksi beras Indonesia diproyeksikan naik menjadi 34,69 juta ton tahun 2025 dari 30,62 juta ton tahun 2024, ditopang kenaikan panen nasional 12,69 persen.
  • Realisasi pengadaan beras domestik Bulog hingga 11 Oktober 2026 mencapai 4.131.492 ton, melebihi target 4 juta ton dan stok cadangan pemerintah lebih dari 4,6 juta ton.
  • Pemerintah membangun dan merehabilitasi jaringan irigasi seluas 589.606 hektare pada 2025 dengan target 750.000 hektare pada 2026 guna meningkatkan produksi dan ketahanan pangan.

Kenaikan produksi dan pengadaan beras

Seperti dilaporkan KOMPAS.com, Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 34,69 juta ton pada 2025, naik dari 30,62 juta ton pada 2024. Produksi padi nasional juga mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling, tumbuh 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan luas panen meningkat 12,69 persen menjadi 11,32 juta hektare.

Produksi jagung nasional juga meningkat sepanjang 2025 menjadi 16,16 juta ton, naik 6,74 persen dibandingkan 2024. Kenaikan sejumlah komoditas ini memperkuat ketersediaan pangan nasional dan mendukung pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Di sisi cadangan, realisasi pengadaan beras dalam negeri Perum Bulog melalui skema public service obligation mencapai 4.131.492 ton setara beras hingga 11 Oktober 2026. Angka itu melampaui target pengadaan 4 juta ton, sementara stok Cadangan Beras Pemerintah tercatat lebih dari 4,6 juta ton untuk menopang bantuan pangan serta stabilisasi pasokan dan harga.

Sentra produksi dan dukungan infrastruktur

Pemerintah juga memperkuat fondasi produksi melalui pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi. Kementerian Pekerjaan Umum mencatat penanganan jaringan irigasi mencakup sekitar 589.606 hektare pada 2025, dengan target mencapai 750.000 hektare pada 2026 untuk meningkatkan kepastian pasokan air, mendorong intensitas tanam, dan menekan kerentanan terhadap perubahan musim serta bencana hidrometeorologi.

Di Sumatera, Sumatera Selatan menghasilkan sekitar 3,63 juta ton gabah kering giling pada 2025, Lampung 3,25 juta ton, Sumatera Utara 2,75 juta ton, dan Aceh 1,62 juta ton. Pemulihan Bendung Krueng Pase di Aceh Utara menjadi salah satu langkah untuk mengembalikan aliran irigasi agar petani dapat kembali mengolah sawah dan melanjutkan musim tanam.

Di Jawa, Jawa Timur mencatat produksi padi 10,44 juta ton gabah kering giling pada 2025, disusul Jawa Barat 10,23 juta ton, Jawa Tengah 9,30 juta ton, dan Banten sekitar 1,77 juta ton. Di luar Jawa, Kalimantan Selatan menghasilkan sekitar 1,18 juta ton, Kalimantan Barat sekitar 758.000 ton, sementara Sulawesi Selatan mencapai 5,47 juta ton dan naik 13,45 persen dibandingkan 2024, menegaskan peran sentra produksi antardaerah dalam menjaga kesinambungan pasokan pangan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang percepatan program ketahanan pangan oleh TNI AD, kami menyoroti arah kebijakan operasional setelah pergantian KSAD yang mencakup kelanjutan agenda ketahanan pangan, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan sekolah rakyat. Kami juga mencatat komitmen dukungan TNI AD untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan di area gambut, sebagai bagian dari penguatan ketahanan di lapangan yang berdampak pada stabilitas pasokan pangan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.