Pemerintah siapkan penambahan kuota Pertalite di Indonesia

Pemerintah siapkan penambahan kuota Pertalite di Indonesia
Pertalite quota to rise

Pemerintah berencana menambah kuota BBM bersubsidi jenis Pertalite setelah konsumsi naik sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Kenaikan ini terjadi ketika sebagian konsumen beralih dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi di tengah lonjakan harga minyak dunia dan naiknya harga jual BBM nonsubsidi.

Sorotan

  • Pemerintah akan menyesuaikan alokasi kuota Pertalite pada akhir bulan ini akibat kenaikan konsumsi yang diprediksi berlanjut pada 2026.
  • Konsumsi BBM subsidi meningkat sejak harga BBM nonsubsidi naik, dengan rata-rata penyaluran Pertalite 75.795 kiloliter dan solar subsidi 50.624 kiloliter per hari per 1 April—20 Agustus 2026.
  • Penambahan kuota Pertalite mempertimbangkan kapasitas fiskal negara di tengah kenaikan harga minyak dunia dan potensi tekanan pada subsidi energi nasional.

Evaluasi kuota dan pergeseran konsumsi

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah akan menyesuaikan alokasi kuota Pertalite setelah evaluasi atas kenaikan konsumsi pada 2026. Ia menyebut exercise untuk kuota Pertalite akan dilakukan pada akhir bulan ini, tetapi belum merinci besaran tambahan volume yang menjadi dasar kenaikan alokasi tahun 2026.

Bahlil menyatakan kenaikan konsumsi terjadi karena adanya pergeseran penggunaan dari RON 92 ke RON 90. Menurut dia, perubahan pola konsumsi itu mendorong kebutuhan penambahan kuota agar pasokan BBM subsidi tetap menyesuaikan permintaan di lapangan.

Pemerintah juga telah menghitung ulang kapasitas fiskal untuk mengakomodasi tambahan kuota BBM subsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia saat ini. Kondisi tersebut ikut mendorong harga BBM nonsubsidi naik, sehingga sebagian masyarakat beralih ke produk bersubsidi.

Dampak pada distribusi BBM bersubsidi

Data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi, BPH Migas, yang dipaparkan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI pada 26 Agustus menunjukkan konsumsi BBM subsidi memang meningkat setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi. Peningkatan itu terutama terlihat pada periode 1 April hingga 20 Agustus 2026.

Rata-rata penyaluran Pertalite tercatat 75.795 kiloliter per hari, sedangkan rata-rata penyaluran solar subsidi mencapai 50.624 kiloliter per hari. Tren ini menunjukkan tekanan permintaan pada energi bersubsidi meningkat, sehingga keputusan penyesuaian kuota berpotensi menjadi faktor penting bagi pengelolaan fiskal energi dan kelancaran distribusi BBM nasional.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang membengkaknya subsidi energi saat ICP berada di kisaran USD90–USD100 per barel, kami menyoroti pernyataan Bahlil Lahadalia bahwa beban subsidi naik mendekati Rp100 triliun dibanding sekitar Rp87 triliun saat ICP di level USD70. Kami juga mencatat faktor geopolitik global yang ikut menjaga harga minyak tetap tinggi dan mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam mengelola kebijakan energi, termasuk BBM bersubsidi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.