Antam catat harga emas Rp2,55 juta per gram, buyback turun pada 27 Oktober

Antam catat harga emas Rp2,55 juta per gram, buyback turun pada 27 Oktober
Antam emas stabil, buyback turun

Pergerakan harga emas batangan Antam pada perdagangan Selasa menunjukkan level jual yang tetap tinggi di tengah penyesuaian harga harian. Pada saat yang sama, harga pembelian kembali atau buyback ikut melemah, memengaruhi acuan transaksi investor ritel di pasar logam mulia domestik.

Sorotan

  • Emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik Rp10.000 menjadi Rp2.550.000 per gram pada 27 Oktober 2026 dari Rp2.540.000 sebelumnya.
  • Harga buyback emas Antam turun Rp4.000 menjadi Rp2.365.000 per gram dari posisi sebelumnya Rp2.369.000 per gram.
  • Transaksi jual kembali emas ke Antam di atas Rp10 juta dikenakan PPh Pasal 22, 1,5% bagi pemegang NPWP dan 3% tanpa NPWP.

Perubahan harga dan ketentuan transaksi

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik Rp10.000 menjadi Rp2.550.000 per gram pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, dari Rp2.540.000 per gram sebelumnya.

Berdasarkan informasi di situs resmi Logam Mulia, harga emas Antam juga tercatat turun Rp4.000 menjadi Rp2.550.000 per gram dari posisi sebelumnya Rp2.554.000 per gram. Penurunan juga terjadi pada harga pembelian kembali, dengan buyback turun Rp4.000 menjadi Rp2.365.000 per gram dari sebelumnya Rp2.369.000 per gram.

Transaksi emas batangan mengikuti ketentuan perpajakan yang berlaku, termasuk Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.10/2017. Aturan itu mengatur pajak atas pembelian dan penjualan kembali emas batangan kepada PT Antam Tbk.

Dampak bagi investor ritel

Dalam skema yang berlaku, penjualan kembali emas batangan kepada PT Antam Tbk dengan nilai di atas Rp10 juta dikenakan Pajak Penghasilan Pasal 22. Tarifnya sebesar 1,5% bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak dan 3% bagi pelanggan yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.

Perubahan pada harga jual dan buyback menjadi faktor penting bagi investor ritel karena langsung memengaruhi potensi margin transaksi harian. Selisih harga tersebut juga menjadi acuan utama bagi pelaku pasar yang memantau waktu pembelian dan penjualan emas fisik.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang prospek laba industri pergadaian menjelang akhir 2026, kami mencatat bahwa pertumbuhan profitabilitas sektor ini masih sangat dipengaruhi pergerakan harga emas, biaya pendanaan, permintaan masyarakat, serta nilai tukar. Kami juga menyoroti bahwa lonjakan laba hingga Agustus 2026 banyak ditopang tingginya permintaan pada segmen gadai emas, sehingga porsi emas dalam portofolio jaminan dan strategi efisiensi operasional menjadi perhatian utama pelaku industri.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.