Produksi gula Indonesia diproyeksikan capai 2,8 juta ton pada 2026

Produksi gula Indonesia diproyeksikan capai 2,8 juta ton pada 2026
Rekor gula 2026!

Kenaikan produksi gula nasional pada 2026 menempatkan industri berbasis tebu pada level tertinggi dalam sekitar 10 tahun terakhir. Hingga 6 November 2026, volume produksi sudah berada di kisaran 2,6 juta hingga 2,7 juta ton saat sejumlah pabrik gula masih menuntaskan musim giling.

Sorotan

  • Produksi gula nasional Indonesia diproyeksikan mencapai 2,8 juta ton pada 2026, didorong perluasan areal tebu, bongkar ratun, dan peningkatan rendemen.
  • Rendemen tebu tahun ini naik karena El Nino, meningkatkan kandungan gula meski bobot tebu menurun, dengan luas areal tanam bertambah.
  • Harga lelang gula saat ini di atas Rp17.000 per kilogram, melebihi harga acuan Rp14.500, meningkatkan pendapatan petani dan insentif perluasan areal tanam.

Pendorong produksi dan kondisi musim giling

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Asosiasi Gula Indonesia memperkirakan produksi gula nasional berbasis tebu pada 2026 mencapai 2,8 juta ton, dengan kenaikan ditopang perluasan areal tebu, program bongkar ratun, dan membaiknya rendemen.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Gula Indonesia, Dwi Purnomo, mengatakan rendemen tebu pada tahun ini meningkat, antara lain karena pengaruh El Nino yang membuat iklim lebih kering. Menurut dia, kondisi tersebut menaikkan kandungan gula dalam tanaman, meski pada saat yang sama bobot tebu menurun sehingga dampaknya terhadap total produksi perlu dilihat secara menyeluruh.

Dwi menilai produksi nasional tetap meningkat karena kenaikan rendemen terjadi bersamaan dengan bertambahnya luas areal tanam. Dengan beberapa pabrik masih menyelesaikan penggilingan, capaian akhir musim masih berpeluang mendekati proyeksi tersebut.

Dampak harga terhadap prospek industri

Selain faktor produksi, pergerakan harga gula ikut memengaruhi prospek industri pergulaan nasional. Dwi menyebut harga lelang gula saat ini berada di atas Rp17.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga acuan pembelian di tingkat produsen sebesar Rp14.500 per kilogram.

Selisih harga itu diharapkan meningkatkan pendapatan petani tebu dan pabrik gula. Kondisi tersebut juga berpotensi mendorong perluasan areal tanam pada musim berikutnya, sehingga menopang pasokan dan memberi insentif lanjutan bagi sektor pergulaan domestik.

Percepatan program strategis Presiden yang melibatkan TNI Angkatan Darat menjadi sorotan dalam laporan kami sebelumnya, menyusul pergantian KSAD dan penegasan fokus kerja operasional mulai 15 Oktober 2026. Agenda yang diprioritaskan mencakup ketahanan pangan, operasionalisasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, sekolah rakyat, serta kesiapan dukungan penanganan kebakaran hutan dan lahan di area gambut.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.