Oksana Koneva

Danantara soroti fundamental emiten di tengah usulan penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI

Danantara soroti fundamental emiten di tengah usulan penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI
Fokus fundamental emiten

Di tengah usulan Morgan Stanley Capital International untuk menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, Danantara Indonesia meminta investor tidak terpaku pada sentimen pasar semata. Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menilai kualitas bisnis, profitabilitas, arus kas, utang, dan tata kelola perusahaan tetap harus menjadi dasar utama dalam mengambil keputusan investasi.

Sorotan

  • Dari 146 emiten berpendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, 134 membukukan laba dan laba agregat tumbuh 15% YoY pada semester I 2026.
  • 121 emiten non-keuangan mencatat total kas Rp583 triliun per kuartal II 2026, meningkat 13% YoY, menandakan kesiapan ekspansi dan aksi korporasi.
  • Sebanyak 61 dari 146 emiten memiliki return on equity di atas 15%, dan sektor perbankan serta konsumsi menunjukkan return on investment sekitar 20% dengan price to earnings ratio di bawah 10 kali.

Data kinerja emiten dan pesan kepada investor

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan pengumuman MSCI itu tidak serta-merta mencerminkan buruknya fundamental perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya pada Kamis, 22 Oktober 2026, ia menegaskan bahwa persoalan tata kelola pasar modal perlu dibenahi, namun hal itu berbeda dari kekuatan operasional dan keuangan banyak perusahaan Indonesia.

Pandu menyebut dari 146 emiten dengan pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, sebanyak 134 perusahaan membukukan laba. Ia juga mengatakan laba agregat kelompok perusahaan tersebut pada semester I 2026 tumbuh 15% secara tahunan, sementara pendapatan agregatnya naik 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, menurut dia, 121 emiten non-keuangan memiliki total kas Rp583 triliun pada kuartal II 2026, naik 13% dari tahun sebelumnya. Kondisi itu, katanya, menunjukkan kapasitas perusahaan untuk melakukan ekspansi usaha maupun aksi korporasi berikutnya.

Implikasi bagi strategi investasi pasar modal

Pandu menekankan investor perlu membedakan persoalan struktur dan tata kelola pasar dengan fundamental masing-masing perusahaan. Ia meminta pelaku pasar menilai emiten dari kemampuan menghasilkan laba, pertumbuhan bisnis, prospek ke depan, arus kas, tingkat utang, dan kualitas tata kelola perusahaan sebelum menanamkan modal.

Ia juga mengatakan bahwa dari 146 emiten berpendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, terdapat 61 perusahaan dengan return on equity di atas 15%. Di sektor perbankan dan konsumsi, menurut dia, ada perusahaan yang mencatat return on investment sekitar 20% dan price to earnings ratio di bawah 10 kali, yang dinilai menarik untuk dicermati investor.

Dengan peluang yang disebut tersebar di berbagai sektor, Danantara memandang keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didorong isu atau sentimen pasar jangka pendek. Penekanan itu menunjukkan bahwa penilaian valuasi dan kualitas bisnis tetap menjadi pertimbangan utama di tengah ketidakpastian persepsi terhadap pasar modal Indonesia.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pergerakan saham bank-bank besar di Bursa Efek Indonesia, kami membahas bagaimana mayoritas saham perbankan berkapitalisasi jumbo tetap relatif bertahan meski IHSG terkoreksi. Ulasan itu juga menyoroti pengaruh tekanan rupiah dan ekspektasi suku bunga global terhadap sentimen investor, sekaligus menunjukkan minat pasar pada emiten bank besar masih ada di tengah volatilitas.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.