UKU soroti kualitas pendanaan dan efisiensi saat laba fintech lending tertekan
Di tengah tekanan pada laba industri fintech peer-to-peer lending, PT Teknologi Merlin Sejahtera atau UKU menyatakan kualitas pendanaan dan efisiensi operasional menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja laba. Perusahaan mengatakan pendekatan pertumbuhan bertahap dan berkelanjutan dipilih untuk menjaga akses layanan tetap mudah dijangkau sekaligus mengendalikan biaya.
Sorotan
- UKU menyalurkan pendanaan Rp687 miliar sepanjang Januari 2026 hingga September 2026 dengan fokus pada kualitas dan efisiensi operasional.
- Laba komprehensif industri fintech lending tercatat Rp1,58 triliun per Agustus 2026—turun 2,99% year-on-year—meski outstanding pembiayaan tumbuh 22,07% menjadi Rp106,94 triliun.
- UKU mencatat tingkat wanprestasi 90 hari, TWP90, sebesar 2,42%, menyoroti pentingnya pengendalian kualitas pendanaan di tengah ekspansi pasar.
Strategi UKU menjaga profitabilitas
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Chief Executive Officer UKU Tony Jackson mengatakan kualitas pendanaan dan efisiensi operasional menjadi dua penentu utama laba penyelenggara fintech P2P lending. Ia menyatakan UKU memilih tumbuh secara bertahap dan berkelanjutan dengan orientasi pada pelanggan.Menurut Tony, efisiensi dan efektivitas operasional dijalankan secara menyeluruh, mulai dari proses pengajuan yang sepenuhnya digital, dokumentasi dan pelaporan yang terotomatisasi, hingga kanal pemasaran yang lebih tepat sasaran. Langkah tersebut ditempuh agar layanan lebih mudah diakses dengan biaya yang tetap terkendali.
Di sisi pendanaan, UKU menjaga kualitas melalui seleksi peminjam yang ketat dengan kriteria kelayakan yang dievaluasi secara berkala. Perusahaan juga terus menyesuaikan produk agar tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan.
Dengan pendekatan itu, UKU telah menyalurkan pendanaan Rp687 miliar sepanjang Januari 2026 hingga September 2026.
Tekanan laba industri dan konteks pasar
Di tingkat industri, laba komprehensif fintech lending masih terkontraksi meski penyaluran pembiayaan terus tumbuh. Otoritas Jasa Keuangan, OJK, mencatat laba komprehensif industri fintech lending mencapai Rp1,58 triliun per Agustus 2026, turun 2,99% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.Pada saat yang sama, outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp106,94 triliun per Agustus 2026. Nilai itu tumbuh 22,07% secara tahunan, menunjukkan ekspansi pembiayaan masih berlangsung walaupun profitabilitas industri menghadapi tekanan.
Dalam ringkasan terkait, UKU juga mencatat tingkat wanprestasi 90 hari, TWP90, sebesar 2,42%. Angka tersebut memberi gambaran bahwa pengendalian kualitas pendanaan menjadi semakin penting bagi pelaku fintech lending di tengah pertumbuhan pasar yang masih kuat.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang dorongan OJK memperketat pengawasan dan manajemen risiko di fintech P2P lending, regulator menyoroti meningkatnya TWP90 industri pada Agustus 2026 serta risiko praktik “gali lubang tutup lubang” akibat pinjaman berlapis. OJK mendorong platform memperkuat analisis kemampuan bayar, pemetaan profil risiko, dan credit scoring agar kualitas portofolio terjaga ketika batas jumlah platform untuk meminjam dilonggarkan.
Berita Fintech Terbaru
- Forex
- Crypto