Palantir di masa kejayaannya: Bagaimana perusahaan yang didukung CIA menghasilkan miliaran dolar

Palantir di masa kejayaannya: Bagaimana perusahaan yang didukung CIA menghasilkan miliaran dolar
Perjalanan Palantir Menuju Kesuksesan

Palantir kembali menjadi sorotan. Perusahaan ini melaporkan pertumbuhan yang memecahkan rekor, membuktikan bahwa mereka tahu cara menghasilkan uang dari kecerdasan buatan. Kisahnya merupakan contoh bagaimana sebuah perusahaan yang dulunya bergerak di bidang intelijen berhasil menjadi salah satu perusahaan teknologi yang paling banyak dibicarakan di dunia.

Artikel ini diterjemahkan dari aslinya. Baca versi asli oleh koresponden kami di sini.

Laporan tanpa celah

Palantir Technologies memulai tahun ini dengan laporan yang melampaui ekspektasi pada hampir semua metrik utama. Pada kuartal pertama, pendapatan perusahaan tumbuh 85% dari tahun ke tahun dan mencapai $1,63 miliar. Analis memperkirakan $1,54 miliar. Laba per saham yang disesuaikan mencapai $0,33, sementara Wall Street memperkirakan $0,28.

Bagi Palantir, ini bukan sekadar kuartal yang baik. Ini adalah pertumbuhan pendapatan tercepat sejak 2020, saat perusahaan go public. Laba bersih tumbuh sekitar empat kali lipat sepanjang tahun: dari $214 juta menjadi $870,5 juta. Sejak akhir 2022, saham Palantir telah naik sekitar 23 kali lipat, mencapai level saat ini sebesar $146.

Bisnis Palantir di AS tumbuh paling cepat. Total pendapatan di AS meningkat 104% dan mencapai sekitar $1,3 miliar. Segmen komersial, yaitu kerja sama dengan perusahaan swasta, tumbuh 133% menjadi $595 juta. Segmen pemerintah juga mengalami percepatan: pendapatan dari lembaga pemerintah AS naik 84% menjadi $687 juta.

Palantir kini memperkirakan pendapatan sepanjang tahun 2026 akan mencapai $7,65 miliar hingga $7,66 miliar. Perkiraan sebelumnya lebih rendah, yaitu sekitar $7,18 miliar hingga $7,2 miliar. Untuk kuartal kedua, perusahaan memperkirakan pendapatan sekitar $1,8 miliar, sementara analis memperkirakan $1,68 miliar.

CEO Palantir, Alex Karp, menggambarkan hasil tersebut dengan nada yang sangat positif. Dalam suratnya kepada pemegang saham, ia mengatakan kinerja keuangan Palantir kini “jauh melampaui” hampir semua perusahaan perangkat lunak dalam sejarah. Ia juga menyoroti efisiensi perusahaan: pendapatan tahunan per karyawan mencapai $1,5 juta. Menurut Karp, Palantir hanya memiliki sekitar 70 tenaga penjualan.

Bukan chatbot, melainkan sistem manajemen

Palantir sering disebut sebagai perusahaan AI, tetapi hal itu tidak sepenuhnya akurat. Perusahaan ini tidak dapat dibandingkan dengan OpenAI, Anthropic, atau pengembang model bahasa besar lainnya. Palantir tidak berusaha memenangkan perlombaan untuk chatbot paling cerdas. Tujuannya berbeda: mengambil data dari organisasi besar, menghubungkannya dengan alur kerja, dan membuat AI berguna untuk keputusan spesifik.

Cara termudah untuk menjelaskannya adalah dengan contoh. Di perusahaan besar, data dapat tersimpan di puluhan sistem berbeda: penjualan di satu tempat, gudang di tempat lain, logistik terpisah, keuangan terpisah, dan kontrak di tempat lain. Akibatnya, manajer melihat gambaran keseluruhan dengan keterlambatan dan sering mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Palantir mengintegrasikan data ini ke dalam satu sistem kerja di mana pengguna tidak hanya dapat melihat laporan, tetapi juga menjalankan tindakan.

Untuk itu, perusahaan sedang mengembangkan Platform Kecerdasan Buatan (AIP). Platform ini terhubung dengan data dan operasi pelanggan, serta memungkinkan agen AI digunakan dalam proses bisnis nyata. Misalnya, agen tersebut tidak hanya dapat menjawab pertanyaan. Ia dapat memeriksa persediaan, mengidentifikasi masalah dalam rantai pasokan, mengusulkan solusi potensial, dan menunjukkan siapa yang harus mengambil langkah selanjutnya.

Inilah mengapa Palantir berbeda dari perusahaan yang menjual AI sebagai alat terpisah untuk pesan, pencarian, atau pembangkitan teks. Palantir menjual sistem yang menjadi bagian dari pekerjaan pelanggan. Itulah mengapa produknya dapat berguna bagi angkatan bersenjata, kementerian, produsen mobil, atau produsen pesawat terbang. Pada kuartal terakhir, Palantir mengumumkan kesepakatan dengan Airbus, Bain, GE Aerospace, dan Stellantis. Contoh lain adalah perjanjian senilai $300 juta dengan Departemen Pertanian AS: Palantir diharapkan membantu petani mengatasi kenaikan biaya dengan mengintegrasikan data ke dalam satu sistem, seperti dilaporkan CNBC.

Palantir juga memiliki fitur penting lainnya: insinyur yang ditempatkan langsung di lokasi pelanggan. Mereka adalah para insinyur yang dikirimkan perusahaan secara langsung ke pelanggan. Mereka tidak sekadar menjual lisensi dan pergi begitu saja. Mereka bekerja di dalam organisasi, mempelajari datanya, dan membangun solusi untuk tugas tertentu. Pemain lain kini mulai meniru model ini: OpenAI dan Anthropic juga sedang mengembangkan divisi perusahaan di mana para insinyur ditempatkan di dalam tim pelanggan.

AI untuk perang dan pemerintahan

Popularitas Palantir tidak hanya tumbuh karena bisnisnya dengan korporasi. Perusahaan ini berada di pusat topik yang menjadi sangat penting bagi Amerika Serikat: bagaimana menggunakan AI dalam pertahanan, intelijen, dan manajemen pemerintahan. Palantir secara historis dekat dengan pasar ini. Investor awalnya adalah In-Q-Tel, lengan investasi CIA, dan pelanggan utamanya selama bertahun-tahun adalah lembaga pemerintah AS dan militer. Hubungan tersebut semakin kuat: tahun lalu, Palantir memiliki kontrak senilai hampir $900 juta dengan Pentagon, dan sebelumnya perusahaan ini menerima kontrak dari Angkatan Darat AS senilai hingga $10 miliar selama 10 tahun.

Bagaimana tepatnya perusahaan ini membantu militer? Salah satu contoh utamanya adalah Maven Smart System. Ini adalah platform manajemen misi digital yang digunakan oleh tentara AS. Platform ini mengumpulkan data dari berbagai sumber, menampilkan peta digital medan perang, membantu mengidentifikasi target lebih cepat, dan menghubungkannya dengan sistem senjata yang tersedia. Pentagon berencana menjadikan Maven sebagai bagian dari infrastruktur militer jangka panjangnya. Menurut Bloomberg, Maven sudah digunakan di seluruh komando regional AS dan digunakan dalam operasi melawan Iran.

Itulah mengapa pimpinan Palantir membicarakan AI secara berbeda dari banyak perusahaan teknologi lainnya. Chief Technology Officer Shyam Sankar mengatakan perang di Iran dapat dikenang sebagai konflik besar pertama di mana AI memainkan peran sentral. Alex Karp juga secara terbuka mengaitkan Palantir dengan pertahanan AS: menurutnya, jika perusahaan meyakini bahwa tentara Amerika berada dalam bahaya, mereka mengerahkan semua sumber dayanya untuk tugas tersebut.

Palantir menjadi salah satu perusahaan utama dalam booming AI bukan karena sekadar menambahkan kecerdasan buatan ke produk lama. Perusahaan ini berada di titik pertemuan beberapa tren besar: peningkatan belanja pertahanan, permintaan pemerintah akan analisis data cepat, keinginan korporasi untuk menggunakan AI dalam operasi nyata, dan minat investor pada perusahaan yang sudah tahu cara menghasilkan uang dari teknologi ini. Dalam satu kuartal, Palantir meningkatkan laba bersihnya hampir empat kali lipat, sementara kapitalisasi pasarnya meroket hingga ratusan miliar dolar. Itulah mengapa fenomena perusahaan ini bukan hanya tentang kontrak besar dan hubungan pertahanan, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan ini berhasil mengubah AI menjadi bisnis yang menguntungkan bagi militer, pemerintah, dan korporasi besar.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.