Bank besar menghadapi perlambatan recovery income di Indonesia
Menurut laporan dan wawancara yang dimuat KONTAN Indonesia pada 24 Maret 2026, bank-bank besar diperkirakan semakin sulit mengandalkan pendapatan pemulihan dari penjualan aset bermasalah untuk menopang laba tahun ini, setelah sumber pertumbuhan itu mulai menipis di tengah permintaan kredit yang masih lemah. Kondisi ini menempatkan fee based income, efisiensi biaya, dan pengelolaan kualitas aset sebagai penopang profitabilitas yang lebih relevan bagi industri perbankan.
Sorotan
- Bank Mandiri membukukan pertumbuhan laba bersih 0,92% dan recovery income naik 7,37% menjadi Rp 7,28 triliun pada tahun lalu, sementara BCA tumbuh 4,9% dengan recovery income naik 25,17% ke Rp 1,07 triliun.
- Penjualan kredit bermasalah CIMB Niaga turun tajam pada 2025 menjadi Rp 430,32 miliar dari Rp 1,36 triliun tahun sebelumnya, mempersempit ruang recovery income dan menggeser fokus ke fee income.
- Stok aset bermasalah yang makin menipis dan prospek penjualan dengan diskon membatasi kontribusi recovery income, mendorong bank Indonesia menguatkan sumber pendapatan inti sepanjang 2026.
Peran recovery income dalam menopang laba bank
Pada tahun lalu, beberapa bank besar masih mencatat dukungan dari recovery income terhadap profitabilitas mereka. Bank Mandiri membukukan pertumbuhan laba bersih 0,92% secara tahunan, sejalan dengan recovery income yang naik 7,37% menjadi Rp 7,28 triliun. BCA juga mencatat laba bersih tumbuh 4,9% secara tahunan, dengan recovery income meningkat 25,17% menjadi Rp 1,07 triliun.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan penyelesaian aset bermasalah berjalan sesuai target dan timeline yang telah ditetapkan. Ia menegaskan pelaksanaan langkah tersebut tetap mengikuti ketentuan dan peraturan yang berlaku. Menurut Hera, BCA juga terus mengelola risiko kredit bermasalah secara hati-hati untuk menjaga kualitas kredit.
BCA menyebut salah satu penopangnya adalah pencadangan yang memadai, dengan rasio NPL coverage sebesar 183,8% pada 2025. Bank itu menyatakan terus mengkaji kecukupan pencadangan sesuai perkembangan kualitas aset dan kondisi ekonomi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemulihan dari aset bermasalah tetap dilihat sebagai bagian dari pengelolaan risiko, bukan semata sumber laba tambahan.
Portofolio aset bermasalah kian terbatas
CIMB Niaga juga menjaga pertumbuhan profitabilitas tahun lalu, dengan laba bersih naik 0,53% menjadi Rp 6,93 triliun. Namun Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menegaskan recovery income dari penjualan aset bermasalah bukan faktor utama pencapaian tersebut. Ia menyebut bank lebih memprioritaskan pendapatan komisi di tengah permintaan kredit yang masih relatif rendah.
Laporan keuangan CIMB Niaga menunjukkan penjualan kredit ke pihak ketiga turun menjadi Rp 430,32 miliar pada 2025, dari Rp 1,36 triliun pada tahun sebelumnya. Pelepasan cadangan kerugian untuk transaksi itu juga turun menjadi Rp 329,22 miliar dari Rp 1,08 triliun. Penurunan ini mengindikasikan ruang penjualan aset bermasalah semakin sempit seiring terbatasnya portofolio yang tersedia.
Lani mengatakan saat ini portofolio aset bermasalah relatif tidak banyak. Dengan kondisi itu, peluang untuk mengulang kontribusi besar recovery income menjadi lebih terbatas pada tahun ini. Strategi pendapatan bank pun bergeser ke lini yang lebih berkelanjutan, terutama fee income.
Dampak industri perbankan tahun ini
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Trioksa Siahaan, menilai penjualan aset bermasalah masih akan digunakan bank untuk mendukung kinerja pada 2026, tetapi bukan lagi penggerak utama. Menurut dia, stok aset yang bisa dijual makin menipis. Ia juga melihat situasi ekonomi saat ini membuat proses penjualan menjadi tidak mudah.
Trioksa mengatakan bila bank ingin menjual aset lebih cepat, penawaran kemungkinan dilakukan pada harga yang lebih rendah. Karena itu, prospek penjualan aset bermasalah diperkirakan melambat dan cenderung muncul dengan diskon. Tekanan tersebut dapat membatasi kontribusi recovery income terhadap laba industri perbankan.
Dalam situasi ini, bank kemungkinan menempuh kombinasi strategi lain, termasuk restrukturisasi kredit, efisiensi biaya, dan optimalisasi fee based income. Arah itu menunjukkan fokus industri bergeser dari pendapatan nonberulang menuju penguatan sumber pendapatan inti. Bagi perbankan Indonesia, kualitas aset dan diversifikasi pendapatan menjadi faktor yang semakin menentukan daya tahan laba pada 2026.
Kami sebelumnya melaporkan tekanan pada pembiayaan rumah yang mulai terlihat pada awal 2026, ketika pertumbuhan outstanding KPR melambat dan rasio NPL naik. Dalam laporan itu, perbankan disebut memperketat analisis serta pengawasan kredit karena tekanan daya beli dan meningkatnya risiko di segmen tertentu, yang berpotensi menahan pemulihan permintaan KPR.
- Forex
- Crypto