Perbankan Indonesia perketat mitigasi risiko saat pertumbuhan kredit melambat

Perbankan Indonesia perketat mitigasi risiko saat pertumbuhan kredit melambat
Bank perketat mitigasi risiko

Data sementara Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan dana pihak ketiga dan kredit perbankan melambat pada Februari 2026, di tengah kenaikan inflasi domestik dan gejolak geopolitik yang dinilai menambah tekanan jangka pendek bagi industri. Perlambatan itu membuat bank dan regulator menyoroti perlunya penguatan kehati-hatian, terutama pada sektor yang sensitif terhadap biaya energi, rantai pasok global, dan pelemahan daya beli. Dalam konteks ini, industri perbankan masih berupaya menjaga fungsi intermediasi sambil menyesuaikan manajemen likuiditas, kualitas aset, dan eksposur pasar.

Sorotan

  • Pertumbuhan dana pihak ketiga melandai ke 9,2% dan kredit turun ke 8,9% secara tahunan pada Februari 2026, sementara inflasi melonjak ke 4,76%.
  • OJK dan perbankan memperketat mitigasi risiko dengan stress test sektor rentan, risk-based pricing, optimalisasi LCR/NSFR, serta pengelolaan nilai tukar yang lebih konservatif.
  • Maybank Indonesia memperingatkan inflasi tinggi dan harga minyak akibat konflik dapat menekan daya beli, meningkatkan biaya produksi, dan memperburuk kualitas kredit.

Perlambatan dana dan kredit pada Februari 2026

Data sementara BI mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga melandai menjadi 9,2% secara tahunan pada Februari 2026, dari 10,8% pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan kredit juga turun menjadi 8,9% secara tahunan, dari 10,2% pada Januari. Di saat yang sama, Badan Pusat Statistik mencatat inflasi naik menjadi 4,76% pada Februari 2026, dari 3,55% pada bulan sebelumnya, seiring dorongan permintaan selama Ramadan.Otoritas Jasa Keuangan menilai ketidakpastian global yang sangat volatil membuat arah risiko semakin sulit diprediksi. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi merembet ke berbagai aspek ekonomi dan wilayah. Menurut dia, kondisi itu dapat berujung pada perlambatan kredit yang berlanjut serta munculnya kredit bermasalah dari sektor-sektor rentan, termasuk ekspor-impor.

Bank fokus pada stress test dan buffer likuiditas

Sejumlah bank mulai menilai kembali dampak gangguan rantai pasok dan lonjakan biaya input terhadap debitur korporasi. Direktur BCA Santoso mengatakan pelemahan permintaan kredit sudah terlihat pada beberapa sektor yang terkait erat dengan supply chain global, termasuk industri kimia yang bergantung pada turunan minyak. Bank, menurut dia, kini melakukan assessment untuk mengukur tingkat kesulitan nasabah dan menyesuaikan respons pembiayaan.Perbanas menyatakan industri terus melakukan mitigasi risiko melalui stress test pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi, seperti transportasi, logistik, dan manufaktur. Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi mengatakan bank juga memperketat penyaluran kredit dengan pendekatan risk-based pricing, menjaga kecukupan likuiditas melalui optimalisasi LCR dan NSFR, serta mengelola eksposur nilai tukar secara lebih konservatif lewat lindung nilai dan pengendalian posisi devisa neto. Langkah itu ditujukan agar intermediasi tetap berjalan tanpa mengabaikan stabilitas di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

Dampak industri dan ruang pertumbuhan ke depan

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan menilai inflasi berpotensi terus naik bila harga minyak tetap tinggi akibat konflik, sehingga biaya produksi membesar, daya beli melemah, dan risiko pemutusan hubungan kerja meningkat. Rantai dampak tersebut pada akhirnya dapat menekan kualitas kredit perbankan. Karena itu, kebutuhan pencadangan dan pemantauan sektor terdampak menjadi semakin penting bagi bank.Ekonom Global Markets Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan stress test perlu diperluas agar bank dapat mengukur ketahanan dalam skenario terburuk sekaligus mengenali sektor yang masih prospektif saat ekonomi tertekan. Menurut dia, penerapan stress test secara lebih luas juga dapat memperkuat sinergi antara regulator dan perbankan. Dengan persiapan itu, industri diharapkan tetap resilien sambil mencari peluang pertumbuhan di tengah ketidakpastian global dan domestik yang masih berlangsung.

Kami sebelumnya melaporkan data Bank Indonesia yang menunjukkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional melambat menjadi 9,2% secara tahunan pada Februari 2026, dari 10,8% pada Januari. Laporan tersebut merinci perlambatan di seluruh komponen utama simpanan—giro, tabungan, dan deposito—serta menyoroti bahwa pertumbuhan DPK masih banyak ditopang segmen korporasi meski ikut melandai.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.