Data uang beredar Bank Indonesia yang dipublikasikan pada Jumat (27/3) menunjukkan dana pihak ketiga perbankan nasional mencapai Rp9.449,1 triliun pada Februari 2026. Kenaikan tahunan sebesar 9,2% ini menandakan penghimpunan dana masih bertumbuh, meski lajunya lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 10,8% pada Januari 2026. Perkembangan tersebut mencerminkan likuiditas perbankan yang tetap terjaga di tengah perlambatan pada sejumlah komponen simpanan.
Sorotan
- DPK perbankan Indonesia tumbuh 9,2% secara tahunan pada Februari 2026, melambat dari laju Januari di seluruh komponen utama simpanan.
- Giro naik 17,6%, tabungan 7,7%, dan deposito 3,7% pada Februari 2026, seluruhnya melambat dari pertumbuhan bulan sebelumnya.
- DPK korporasi tumbuh 15,9%, perorangan 2,4%, dan segmen lain 7,3%, menunjukkan ketergantungan utama pada dana korporasi untuk pertumbuhan simpanan.
Pertumbuhan simpanan melambat di seluruh komponen utama
Giro, tabungan, dan simpanan berjangka tetap menjadi penopang utama kenaikan DPK pada Februari 2026. Masing-masing komponen itu tumbuh 17,6% secara tahunan, 7,7%, dan 3,7%. Namun, seluruhnya melambat dibandingkan Januari 2026, ketika giro tumbuh 19,0%, tabungan 8,8%, dan deposito 5,7%.
Dari sisi mata uang, DPK dalam rupiah masih mendominasi dengan pertumbuhan 10,2% secara tahunan. Sementara itu, DPK dalam valuta asing tumbuh lebih terbatas sebesar 3,8%. Pola ini menunjukkan penghimpunan dana masih terutama bertumpu pada simpanan berdenominasi rupiah.
Segmen korporasi masih menopang penghimpunan dana
Berdasarkan golongan nasabah, pertumbuhan DPK didorong oleh segmen korporasi, perorangan, dan nasabah lainnya. DPK korporasi tumbuh 15,9% secara tahunan, perorangan 2,4%, dan lainnya 7,3%. Meski begitu, ketiga segmen tersebut juga mencatat perlambatan dibandingkan Januari 2026, saat korporasi tumbuh 18,2%, perorangan 3,2%, dan lainnya 9,6%.
Secara rinci, dana korporasi masih menjadi penopang utama DPK, diikuti dana ritel dan institusi lainnya. Bagi industri perbankan Indonesia, komposisi ini menandakan ketergantungan yang masih kuat pada dana korporasi untuk menopang pertumbuhan simpanan. Perlambatan yang terjadi di seluruh segmen sekaligus dapat menjadi sinyal bahwa persaingan penghimpunan dana dan preferensi penempatan dana nasabah perlu terus dicermati.
Kami sebelumnya melaporkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) korporasi Bank Mega Syariah yang melampaui Rp 5,9 triliun per Desember 2025, naik lebih dari 60% secara tahunan, dengan dorongan utama dari optimalisasi giro dan solusi cash management. Laporan itu juga menyoroti penguatan giro rupiah korporasi, program loyalitas untuk mendorong CASA, serta meningkatnya persaingan dana murah yang makin bertumpu pada kualitas layanan transaksi bagi segmen institusi.
Berita Mergers Terbaru
- Forex
- Crypto