Jakarta dan Bekasi hadapi lonjakan permintaan BBM akibat isu harga

Jakarta dan Bekasi hadapi lonjakan permintaan BBM akibat isu harga
Lonjakan permintaan BBM

Antrean panjang di sejumlah SPBU Jakarta, Bekasi, dan Tangerang Selatan terjadi pada Selasa, menurut pantauan Kompas.com, setelah tangkapan layar di media sosial memicu kekhawatiran kenaikan harga BBM non-subsidi mulai 1 April 2026. Kondisi ini berlanjut hingga malam meski pemerintah secara resmi mengumumkan tidak ada kenaikan harga BBM. Arus kendaraan di beberapa titik bahkan meluber ke badan jalan dan sempat mengganggu lalu lintas.

Sorotan

  • SPBU di Jakarta hingga Bekasi mengalami lonjakan antrean pengisian BBM pada 1 April 2026, didominasi pengendara motor yang mengisi penuh tangki.
  • Isu di media sosial tentang kenaikan harga BBM—termasuk rumor Pertamax naik menjadi Rp 17.000 per liter—dan pembatasan mulai 1 April 2026 memicu pembelian antisipatif.
  • Lonjakan permintaan BBM akibat rumor harga mengindikasikan sensitivitas pasar, meningkatkan kepadatan operasional SPBU dan potensi gangguan lalu lintas urban.

Antrean meluas di koridor Jakarta hingga Bekasi

Di Jalan Daan Mogot, dua SPBU swasta terlihat dipadati kendaraan roda dua dan roda empat yang menunggu pengisian bahan bakar. Antrean sepeda motor di SPBU BP-AKR pada arah Grogol mencapai lebih dari 20 kendaraan, sementara antrean mobil juga terbentuk meski lebih pendek. Kondisi serupa terlihat di SPBU Vivo di seberang lokasi, dengan waktu tunggu pengendara motor melebihi 20 menit.

Kepadatan yang sama juga muncul di SPBU Vivo dan SPBU Pertamina di Jalan MT Haryono, Tebet, menuju Cawang. Di salah satu titik, antrean mobil meluber hingga ke badan jalan dan memicu kemacetan serta bunyi klakson dari kendaraan di belakang. Dalam situasi tersebut, perlambatan laju kendaraan di tengah antrean ikut memicu tabrakan ringan antara sepeda motor dan mobil.

Antrean masih tampak hingga malam di SPBU Pertamina 34.171.44 di Jalan RA Kartini, Bekasi Timur, serta di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Menjelang tengah malam, barisan kendaraan masih memanjang hingga ke jalan sekitar lokasi. Dominasi antrean berasal dari pengendara sepeda motor yang berupaya mengisi penuh tangki sebelum jadwal yang mereka yakini berlaku pada Rabu.

Isu media sosial memicu pembelian antisipatif

Pemicunya adalah sebaran dokumen di media sosial yang disebut memuat tabel kenaikan harga sejumlah produk BBM, termasuk Pertamax, Pertamax Green 95, Pertamax Turbo, Pertadex, dan Dexlite. Selain isu kenaikan harga, beredar pula kabar mengenai pembatasan BBM oleh pemerintah yang disebut mulai berlaku pada 1 April 2026. Kombinasi dua isu itu mendorong pembelian antisipatif oleh masyarakat.

Salah seorang warga Palmerah, Jakarta Barat, mengatakan informasi awal ia peroleh dari grup WhatsApp lingkungan dan grup RT. Ia menyebut kabar yang beredar menyatakan harga Pertamax akan naik menjadi Rp 17.000 per liter. Meski sempat meragukan kebenarannya, ia menilai rumor itu terdengar masuk akal karena dikaitkan dengan kenaikan harga minyak global dan kondisi konflik perang.

Respons konsumen ini menunjukkan sensitivitas permintaan BBM terhadap rumor harga, terutama untuk produk non-subsidi. Bagi operator SPBU dan lalu lintas perkotaan, lonjakan mendadak seperti ini meningkatkan risiko kepadatan operasional dan gangguan jalan di sekitar lokasi pengisian. Selama kepastian kebijakan belum sepenuhnya dipercaya publik, tekanan permintaan jangka pendek di jaringan ritel BBM masih berpotensi berulang.

Sebelumnya, kami melaporkan bahwa meski pemerintah menyatakan harga BBM subsidi dan nonsubsidi tidak naik per 1 April 2026, antrean pembelian Pertamax tetap mengular di SPBU Pertamina Abdul Muis, Jakarta Pusat. Laporan itu menyoroti bagaimana sentimen dari kabar yang beredar di media sosial mendorong pembelian antisipatif, sehingga operator SPBU perlu meningkatkan layanan dan manajemen antrean meski pasokan serta harga resmi dinyatakan stabil.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.