Indonesia catat kenaikan minat investasi Jepang dan Korea Selatan

Indonesia catat kenaikan minat investasi Jepang dan Korea Selatan
Investasi asing melonjak

Pernyataan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, yang dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis, menyebut rangkaian kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan memperkuat keyakinan investor terhadap Indonesia. Menurut Rosan, forum dan pertemuan langsung itu memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menyampaikan hambatan operasional, masukan kebijakan, serta rencana ekspansi secara langsung kepada pemerintah. Agenda tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian geopolitik global, ketika Indonesia berupaya menjaga arus modal asing tetap tumbuh.

Sorotan

  • Investasi Korea Selatan di Indonesia tumbuh rata-rata sekitar 14 persen per tahun dan investasi Jepang naik 8–9 persen per tahun.
  • Pemerintah menindaklanjuti rencana investasi gabungan sekitar $6 miliar dari perusahaan besar seperti Lotte Chemical dan POSCO.
  • Kehadiran Danantara dan stabilitas politik-ekonomi meningkatkan kepercayaan investor Jepang dan Korea, mendorong ekspansi dan co-investment tahap kedua di sektor manufaktur dan hilirisasi.

Pertemuan bisnis dorong tindak lanjut investasi

Rosan menyampaikan hal itu setelah menghadiri forum Indonesia-Korea Partnership for Resilient Growth di Seoul, Rabu. Ia mengatakan respons dunia usaha sangat positif karena Presiden dinilai terbuka dan cepat menanggapi masukan dari investor yang sudah beroperasi di Indonesia. Dalam kunjungan ke Jepang, pemerintah menggelar forum bisnis yang dihadiri lebih dari 300 pengusaha serta pertemuan terbatas dengan 12 perusahaan besar, sedangkan di Korea Selatan dilakukan pertemuan intensif dengan 11 perusahaan besar.

Ia menambahkan minat investasi dari kedua negara tetap meningkat. Secara rata-rata, investasi Korea Selatan tumbuh sekitar 14 persen per tahun, sementara investasi Jepang naik sekitar 8 persen hingga 9 persen per tahun. Pemerintah kini menindaklanjuti sejumlah rencana investasi bersama dengan perusahaan besar, termasuk Lotte Chemical dan POSCO, dengan nilai gabungan sekitar 6 miliar dollar U.S.

Dampak bagi iklim usaha dan ekspansi industri

Rosan menilai kehadiran Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia turut menambah kepercayaan investor untuk masuk dalam skema co-investment. Menurut dia, sejumlah investor yang telah lebih dulu beroperasi di Indonesia kini justru menyampaikan komitmen untuk masuk ke fase ekspansi berikutnya. Ia menyebut KCC Glass, POSCO, dan beberapa perusahaan lain sebagai bagian dari kelompok investor yang bergerak ke tahap kedua.

Ia juga menekankan stabilitas politik dan ekonomi Indonesia menjadi faktor utama dalam keputusan investasi jangka panjang. Bagi investor, stabilitas tersebut menjadi modal dasar untuk menempatkan dana dan memperluas operasi di dalam negeri. Pemerintah, kata Rosan, akan terus menindaklanjuti kesepakatan yang telah dicapai agar realisasinya memberi dampak nyata bagi perekonomian nasional.

Arti strategis bagi industri Indonesia

Kenaikan minat dari Jepang dan Korea Selatan menunjukkan Indonesia masih dipandang sebagai tujuan penting untuk investasi manufaktur dan hilirisasi di kawasan. Fokus pada co-investment dan ekspansi fase kedua juga mengindikasikan investor tidak hanya mempertahankan operasi yang ada, tetapi menilai prospek jangka panjang pasar domestik tetap kuat. Jika rencana investasi tersebut terealisasi, arus modal baru berpotensi memperkuat kapasitas industri, memperluas rantai pasok, dan mendukung agenda pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam konteks regional, komitmen dari dua mitra utama Asia ini dapat memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan menarik investasi asing langsung. Langkah pemerintah mempertemukan investor dengan pengambil keputusan tertinggi juga memperlihatkan pendekatan yang lebih langsung untuk menyelesaikan hambatan di lapangan. Pola itu dapat menjadi faktor pendukung bagi keberlanjutan investasi di sektor-sektor strategis.

Kami sebelumnya melaporkan penandatanganan nota kesepahaman Indonesia–Korea Selatan senilai 10,2 miliar dollar U.S. yang lahir dari forum Indonesia-Korea Partnership for Resilient Growth di Seoul. Kesepakatan tersebut mencakup sektor strategis seperti energi bersih, manufaktur, digital, hingga infrastruktur, serta menegaskan upaya pemerintah mempercepat realisasi investasi melalui mekanisme debottlenecking. Dalam konteks itu, kolaborasi dengan Danantara juga disebut sebagai salah satu jalur untuk memperkuat implementasi dan membuka peluang co-investment jangka panjang.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.