Perbankan Indonesia andalkan transaksi digital untuk dorong pendapatan dan efisiensi

Perbankan Indonesia andalkan transaksi digital untuk dorong pendapatan dan efisiensi
Digital dorong efisiensi bank

Penguatan kanal digital mulai menjadi penopang kinerja bank di Indonesia, menurut analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama pada Senin, seiring industri mengejar pertumbuhan fee-based income dan efisiensi operasional. Ia menilai kenaikan penggunaan layanan digital membantu bank menekan cost to income ratio, sementara prospek pembiayaan korporasi juga terbuka dari konsolidasi aset negara melalui Danantara dan kebutuhan proyek ekonomi strategis.

Sorotan

  • Layanan digital mendorong pendapatan berbasis komisi dan efisiensi bank, dengan transaksi digital tumbuh sekitar 28% tahunan ke lebih dari 738,7 juta hingga awal 2024.
  • Ekosistem BUMN dan Danantara meningkatkan kebutuhan layanan perbankan korporasi, membuka peluang kredit sindikasi dan manajemen kas bagi bank dengan kapabilitas besar.
  • Imbal hasil dividen bank diproyeksikan mencapai 8,80%, sementara pertumbuhan transaksi digital perkuat relevansi sektor perbankan di pasar investasi domestik.

Pertumbuhan transaksi digital dan strategi kanal bank

Layanan digital dinilai menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan pengguna aplikasi keuangan dalam industri perbankan. Menurut Nafan, perkembangan ini menopang pendapatan berbasis komisi secara signifikan dan pada saat yang sama memperbaiki efisiensi operasional bank. Bank-bank karena itu memaksimalkan pengembangan kanal digital untuk memperkuat kinerja di tengah perubahan perilaku nasabah. Seorang direktur bidang keuangan dan strategi juga menyampaikan bahwa sampai Februari 2026, volume transaksi melalui layanan digital terus menunjukkan tren kenaikan yang kuat. Total transaksi sejak awal tahun disebut telah melampaui 738,7 juta transaksi, atau tumbuh sekitar 28% secara tahunan. Angka ini menunjukkan aktivitas digital makin penting sebagai sumber skala bisnis dan pendapatan bagi perbankan.

Peluang pembiayaan korporasi dari ekosistem BUMN

Nafan menilai perbankan juga diuntungkan oleh keberadaan ekosistem BUMN dan Danantara. Konsolidasi aset negara melalui Danantara diperkirakan membutuhkan layanan perbankan korporasi yang lebih kompleks, mulai dari sindikasi kredit hingga manajemen kas berskala besar. Kondisi itu membuka ruang bagi bank yang memiliki kapabilitas kuat di segmen korporasi. Ia menambahkan prospek pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan hilirisasi sektor industri serta energi, termasuk energi baru dan terbarukan, berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan besar. Kenaikan kebutuhan kredit korporasi tersebut dapat menjadi peluang bisnis yang signifikan bagi industri perbankan. Dalam pandangan itu, transformasi digital dan kapasitas pembiayaan korporasi menjadi dua penopang yang saling melengkapi.

Daya tarik sektor perbankan bagi investor

Selain prospek operasional, sektor perbankan disebut masih menarik dari sisi investasi. Nafan menilai bank memiliki keunggulan pada pembagian dividen, ditambah potensi total return yang dinilai tetap kompetitif bagi investor. Dengan kombinasi income dan capital gain, sektor ini masih dipandang relevan untuk strategi investasi di pasar domestik. Dalam paparan tersebut, dividen yield perbankan diperkirakan mencapai 8,80%. Proyeksi itu memperkuat pandangan bahwa saham bank masih menawarkan keseimbangan antara imbal hasil dan eksposur terhadap pertumbuhan ekonomi. Bagi pasar, tren transaksi digital yang meningkat juga menjadi sinyal bahwa basis pendapatan nonbunga bank terus berkembang.

Sebelumnya, kami melaporkan langkah konsolidasi aset manajer investasi BUMN melalui PT Danantara Asset Management, yang mengambil alih unit-unit manajer investasi milik BRI, BNI, dan Bank Mandiri. Transaksi tersebut bernilai total sekitar Rp 2,7 triliun dan menempatkan Danantara dengan dana kelolaan gabungan sekitar Rp 132,09 triliun, sebagai bagian dari upaya membangun platform investasi yang lebih besar dan menyederhanakan struktur kepemilikan di ekosistem BUMN.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.