Impor plastik Indonesia terdampak lonjakan biaya bahan baku

Impor plastik Indonesia terdampak lonjakan biaya bahan baku
Biaya impor plastik melonjak

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia mengimpor plastik dan barang dari plastik senilai USD873,2 juta pada Februari 2026, di tengah kenaikan harga bahan baku yang dikaitkan dengan gangguan pasokan nafta dari Timur Tengah. Kenaikan ini menambah tekanan biaya pada industri yang bergantung pada bahan baku petrokimia, meski harga bahan bakar minyak domestik masih ditahan pemerintah. China menjadi pemasok terbesar, disusul Thailand dan Korea Selatan.

Sorotan

  • Lonjakan harga nafta global mencapai 917 USD per ton per 1 April 2026—naik 45% sejak Februari—memicu kenaikan biaya bahan baku plastik Indonesia.
  • Impor plastik dan barang plastik Indonesia pada Februari 2026 didominasi China dengan USD380,1 juta, disusul Thailand USD82,7 juta, dan Korea Selatan USD66,7 juta.
  • Kenaikan biaya input petrokimia menekan margin industri manufaktur berbasis plastik, meningkatkan risiko harga barang konsumsi naik meski subsidi BBM tetap berjalan.

Gangguan pasokan nafta dorong harga plastik

Dalam teks disebutkan sekitar 70% nafta dunia berasal dari Timur Tengah, sehingga gejolak geopolitik di kawasan itu langsung memengaruhi rantai pasok bahan baku plastik. Pasokan disebut terganggu sejak serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu lonjakan harga nafta dalam satu bulan terakhir. Per 1 April 2026, harga nafta mencapai 917 USD per ton, naik dari sekitar 630 USD per ton pada Februari. Kenaikan tersebut berarti harga bahan baku plastik melonjak hampir 45%, dan pergerakannya masih sangat dinamis dari hari ke hari.

Ketergantungan impor dan dampak ke industri

Indonesia masih mengandalkan pasokan plastik dan barang dari plastik dari sejumlah negara besar pemasok. Pada Februari 2026, impor terbesar berasal dari China sebesar USD380,1 juta, lalu Thailand USD82,7 juta, dan Korea Selatan USD66,7 juta. Dalam industri petrokimia, nafta dipakai untuk menghasilkan berbagai bahan kimia penting, termasuk butadiena, etilena, dan propilena. Produk turunannya masuk ke beragam sektor, mulai dari sarung tangan karet dan ban hingga botol plastik, kontainer, suku cadang otomotif, mainan, dan kemasan.

Tekanan biaya meluas ke sektor manufaktur

Kenaikan harga bahan baku non-BBM membuat biaya produksi industri tetap meningkat walaupun harga BBM domestik masih ditahan pemerintah. Kondisi ini menunjukkan perlindungan kebijakan energi tidak sepenuhnya menahan tekanan biaya di sektor manufaktur, karena komponen input petrokimia tetap mengikuti pasar global. Industri yang memakai resin plastik dan turunan petrokimia berpotensi menghadapi margin yang lebih ketat bila lonjakan harga berlangsung. Situasi tersebut juga dapat memengaruhi harga barang konsumsi dan komponen industri yang memakai bahan plastik sebagai input utama.

Sebelumnya, kami melaporkan lonjakan harga plastik di Pasar Pondok Labu yang terjadi setelah harga nafta naik hampir 45% dalam sebulan. Laporan itu menyoroti dampaknya ke pedagang dan konsumen, mulai dari kenaikan harga berbagai jenis kantong plastik hingga margin usaha kecil yang makin tertekan di tengah melemahnya daya beli.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.