Industri asuransi Indonesia hadapi hambatan proteksi kendaraan listrik
Otoritas Jasa Keuangan menyatakan dalam jawaban tertulis RDK OJK pada 9 April bahwa pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia belum langsung diikuti meluasnya perlindungan asuransi karena profil risikonya masih dinilai menantang. Regulator menyoroti tingginya biaya perbaikan, mahalnya komponen utama seperti baterai, serta keterbatasan bengkel dan suku cadang yang memengaruhi potensi klaim. Meski begitu, OJK memandang kebutuhan proteksi tetap meningkat seiring bertambahnya kepemilikan kendaraan listrik dan nilai unit yang relatif tinggi.
Sorotan
- OJK menilai prospek asuransi kendaraan listrik positif, namun penyesuaian tarif premi masih dikaji sesuai karakteristik risiko baru dan kebutuhan data risiko.
- AAUI menyebut ekosistem baterai dan suku cadang yang belum siap meningkatkan ketidakpastian nilai klaim dan membuat perusahaan asuransi menahan ekspansi portofolio EV.
- Biaya klaim perbaikan kendaraan listrik 30–40% lebih tinggi dari kendaraan konvensional sehingga perusahaan asuransi bersikap hati-hati dan penetrasi asuransi EV tetap rendah.
Penyesuaian risiko dan tarif premi
Menurut OJK, perkembangan kendaraan listrik tetap membuka peluang signifikan bagi industri asuransi karena kebutuhan perlindungan ikut tumbuh bersama kenaikan populasi kendaraan. Risiko yang perlu dicakup bukan hanya kecelakaan, tetapi juga kerusakan baterai dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga. OJK karena itu menilai prospek asuransi kendaraan listrik ke depan cukup positif, meski jalur menuju ekspansi produk masih membutuhkan penyesuaian.
Regulator juga sedang mengkaji penyesuaian tarif premi dengan mempertimbangkan karakteristik risiko kendaraan listrik yang berbeda dari kendaraan konvensional. Langkah itu menunjukkan bahwa pengembangan produk tidak hanya bergantung pada permintaan pasar, tetapi juga pada kecukupan data risiko dan struktur biaya klaim. Seiring ekosistem kendaraan listrik berkembang, OJK berharap hambatan yang ada dapat berkurang.
Ekosistem bengkel dan suku cadang jadi kendala utama
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mengatakan peralihan preferensi masyarakat dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan asuransi umum. Ketua Umum AAUI Budi Herawan menilai saat kendaraan listrik mulai masuk secara lebih luas, ekosistem pendukungnya belum sepenuhnya tersedia. Kondisi itu membuat pelaku industri lebih berhati-hati dalam membuka perlindungan untuk kendaraan listrik.
AAUI menekankan perlunya dukungan ekosistem seperti pabrik baterai dan pasokan suku cadang agar produk kendaraan listrik menjadi lebih siap untuk pasar massal. Keterbatasan komponen dan fasilitas perbaikan dinilai memperbesar ketidakpastian nilai klaim. Dalam kondisi seperti itu, perusahaan asuransi cenderung menahan ekspansi portofolio di segmen kendaraan listrik.
Biaya klaim lebih tinggi tekan minat penanggung
Dari sisi industri, biaya perbaikan kendaraan listrik disebut bisa 30% sampai 40% lebih mahal dibanding kendaraan konvensional. Kenaikan biaya itu terutama berkaitan dengan harga komponen dan akses suku cadang yang belum semudah kendaraan berbahan bakar fosil. Beban klaim yang lebih tinggi inilah yang membuat banyak perusahaan asuransi kendaraan enggan menutup risiko kendaraan listrik.
Bagi pasar Indonesia, kondisi tersebut berarti pertumbuhan penjualan kendaraan listrik belum otomatis diterjemahkan menjadi penetrasi asuransi yang luas. Namun, apabila pemerintah dan industri berhasil memperkuat ekosistem pendukung, ruang pertumbuhan bagi asuransi kendaraan listrik tetap terbuka. Perbaikan infrastruktur dan kapasitas industri pendukung akan menjadi faktor penting untuk memperluas proteksi di sektor ini.
Kami sebelumnya melaporkan bahwa OJK menilai pelemahan rupiah berpotensi menaikkan biaya klaim industri asuransi, terutama pada lini kendaraan dan kesehatan, karena harga suku cadang, obat, dan layanan berbasis impor ikut naik. Dalam laporan itu, OJK juga menyoroti respons industri melalui penyesuaian premi bertahap, penguatan manajemen risiko, optimalisasi reasuransi, serta efisiensi operasional lewat kerja sama dengan mitra bengkel dan fasilitas layanan kesehatan.
Berita Allianz Terbaru
- Forex
- Crypto