Bisnis BNPL berpotensi tumbuh seiring kenaikan harga BBM non subsidi
Kenaikan harga BBM non subsidi pada 19 April berpotensi mengubah pola konsumsi rumah tangga dan mendorong penggunaan layanan buy now pay later, atau BNPL. Dorongan ini dinilai muncul sebagai respons atas tekanan biaya hidup yang meningkat, bukan karena membaiknya kondisi daya beli masyarakat.
Sorotan
- Kenaikan harga BBM non subsidi diperkirakan mendorong permintaan BNPL, khususnya di segmen konsumen menengah yang membutuhkan fleksibilitas arus kas.
- Risiko kredit macet BNPL diprediksi naik akibat tekanan ekonomi, sehingga perusahaan diimbau memperketat penilaian kredit dan memperkuat edukasi serta transparansi biaya.
- Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan pertumbuhan tahunan penyaluran BNPL mencapai 53,53% menjadi Rp12,59 triliun pada Februari 2026, dengan NPF gross naik ke 2,79%.
Dampak kenaikan BBM pada permintaan BNPL
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai kenaikan harga BBM non subsidi dapat mendorong pertumbuhan layanan BNPL, terutama untuk kebutuhan rutin. Ia mengatakan konsumen mencari fleksibilitas arus kas, sementara kelompok menengah diperkirakan menjadi segmen yang paling banyak memanfaatkan fasilitas tersebut sebagai alat pengelolaan likuiditas jangka pendek.Heru menegaskan kenaikan penggunaan BNPL tidak serta-merta mencerminkan perbaikan daya beli. Menurut dia, tren itu justru menjadi salah satu indikasi bahwa tekanan ekonomi sedang meningkat dan rumah tangga menyesuaikan pengeluaran secara defensif.
Risiko pembiayaan dan kehati-hatian industri
Di saat yang sama, ia menyoroti risiko kredit macet yang dapat meningkat ketika biaya hidup naik dan kemampuan bayar pengguna terganggu. Untuk mengantisipasi kondisi itu, perusahaan BNPL disarankan memperketat penilaian kredit berbasis data real-time, menyesuaikan limit pinjaman secara dinamis, serta meningkatkan pemantauan terhadap perilaku pengguna.Edukasi konsumen dan transparansi biaya juga dinilai perlu diperkuat, sementara pendekatan ekspansi yang lebih konservatif disebut menjadi kunci menjaga keberlanjutan bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi. Langkah tersebut diharapkan membantu penyedia BNPL menjaga kinerja pembiayaan ketika risiko gagal bayar masih tinggi.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan BNPL perusahaan pembiayaan tumbuh 53,53% secara tahunan pada Februari 2026, dengan penyaluran mencapai Rp12,59 triliun, naik dari Rp12,18 triliun pada Januari 2026. Pada saat yang sama, rasio non performing financing gross BNPL tercatat 2,79% pada Februari 2026, sedikit lebih tinggi dibandingkan 2,77% pada Januari 2026.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan harga BBM nonsubsidi oleh Pertamina, kami mengulas lonjakan harga sejumlah produk seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex serta dampaknya pada biaya mobilitas harian di kota-kota besar. Kami juga menyoroti potensi pergeseran konsumsi ke BBM yang lebih murah ketika selisih harga antarproduk makin lebar, yang pada akhirnya menekan anggaran rumah tangga dan memengaruhi pola kerja serta keputusan belanja.
Berita Affirm Terbaru
- Forex
- Crypto