BEI mencatat saham lapis dua dan tiga menguat saat IHSG tertekan pada pekan 20-24 April

BEI mencatat saham lapis dua dan tiga menguat saat IHSG tertekan pada pekan 20-24 April
Saham lapis dua menguat

Di tengah koreksi tajam pasar saham domestik, sejumlah emiten justru membukukan kenaikan harga signifikan sepanjang pekan 20-24 April 2026. Penguatan itu terutama datang dari saham berkapitalisasi kecil hingga menengah, sementara dampaknya terhadap IHSG tetap terbatas karena bobot kapitalisasi pasarnya relatif kecil.

Sorotan

  • Saham lapis dua dan tiga seperti WBSA (+94,16%), CTTH (+85,06%), dan KOTA (+82,86%) memimpin kenaikan di tengah koreksi pasar.
  • IHSG melemah 6,61% ke 7.129,490 selama 20-24 April 2026, kehilangan 504,514 poin akibat tekanan jual tajam di seluruh sektor.
  • Kapitalisasi pasar BEI turun 6,59% menjadi Rp12.736 triliun seiring koreksi IHSG, meski lonjakan saham second dan third liners terjadi.

Pergerakan top gainers di tengah koreksi pasar

Menurut Okezone, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, saham-saham dengan kenaikan tertinggi selama sepekan didominasi emiten lapis dua dan tiga ketika tekanan masih membayangi pasar. PT Wahana Bersama Sejahtera Tbk (WBSA) menjadi top gainer utama setelah melonjak 94,16% ke level 1.330.

Penguatan besar juga dicatat PT Citatah Tbk (CTTH) yang naik 85,06% ke level 161, serta PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) yang menguat 82,86% ke level 128. Selain itu, PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) naik 81,69% ke level 665, diikuti PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) yang menguat 57,42% ke level 4.030.

Saham PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) turut naik 37,21% ke level 118 dan PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) menguat 33,76% ke level 210. Kenaikan pada kelompok saham ini mencerminkan pergerakan spekulatif yang cukup kuat pada emiten second dan third liners.

Tekanan IHSG dan dampaknya pada kapitalisasi pasar

Selama periode 20-24 April 2026, IHSG ditutup melemah 6,61% ke level 7.129,490 dari 7.643,004 pada pekan sebelumnya. Secara absolut, indeks kehilangan 504,514 poin, menandakan tekanan jual yang kuat di pasar saham domestik.

Dalam rentang perdagangan sepekan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 7.692,145 dan terendah 7.115,971. Koreksi itu sejalan dengan penurunan kapitalisasi pasar yang menyusut 6,59% menjadi Rp12.736 triliun dari Rp13.635 triliun pada pekan sebelumnya.

Pelemahan tersebut menunjukkan nilai keseluruhan emiten di pasar ikut tergerus di tengah tekanan harga saham lintas sektor. Meski sejumlah saham kecil dan menengah mencatat lonjakan tajam, kontribusinya terhadap pergerakan indeks utama tetap relatif terbatas.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan saham big caps terhadap IHSG pada periode 20-24 April 2026, kami mengulas bagaimana pelemahan emiten berkapitalisasi besar di sektor perbankan, telekomunikasi, serta energi menjadi penekan utama indeks. Sejumlah saham unggulan seperti BBRI, BBCA, TLKM, BREN, dan DSSA tercatat turun tajam, sehingga pergerakan IHSG sangat sensitif terhadap koreksi pada nama-nama berkapitalisasi besar meski tidak semua saham melemah merata.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.