IHSG diperkirakan melanjutkan konsolidasi di tengah tekanan global dan arus keluar asing

IHSG diperkirakan melanjutkan konsolidasi di tengah tekanan global dan arus keluar asing
IHSG konsolidasi di bawah tekanan

Pasar saham Indonesia menghadapi pekan perdagangan singkat dengan tekanan yang masih tinggi setelah koreksi tajam pada pekan sebelumnya. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan, atau IHSG, diperkirakan tetap variatif dengan kecenderungan melemah karena sentimen global, pelemahan rupiah, dan aksi jual investor asing.

Sorotan

  • IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan ke area 7.022-7.080 setelah gagal mempertahankan support 7.100-7.150 dan terkoreksi 6,61% pekan lalu.
  • Ketegangan di Timur Tengah dan kebuntuan negosiasi AS-Iran meningkatkan kekhawatiran pasokan energi serta memperkuat ekspektasi Federal Reserve tetap hawkish.
  • MSCI membekukan rebalancing indeks saham Indonesia hingga Mei 2026, memicu aksi jual bersih investor asing sebesar Rp42,8 triliun sejak awal tahun.

Level teknikal dan pemicu tekanan pasar

Menurut analisis PT Indo Premier Sekuritas, arah indeks pada awal pekan ini sangat dipengaruhi oleh sikap risk-off global dan depresiasi rupiah yang sempat menyentuh rekor terlemah di Rp17.315 per dolar U.S. Analis ekuitas IPOT Brigita Kinari menyebut perhatian pasar kini tertuju pada area support 7.100-7.150.

Jika kisaran tersebut gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup gap berikutnya di area 7.022-7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917. Proyeksi itu mengikuti koreksi 6,61% yang terjadi pada pekan sebelumnya.

Tekanan terhadap pasar domestik juga datang dari eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang belum menunjukkan titik terang. Kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi di Selat Hormuz, yang dapat mendorong inflasi global lebih tinggi.

Dampak sentimen eksternal dan domestik

Dalam pandangan Brigita, tanpa de-eskalasi di kawasan tersebut, pasar mulai mengantisipasi potensi pengetatan suplai energi yang menjaga harga tetap tinggi. Kondisi itu berisiko menahan penurunan inflasi global dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter jangka pendek, termasuk memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve tetap cenderung hawkish.

Dari dalam negeri, sentimen negatif bertambah setelah MSCI membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Keputusan itu ikut memicu aksi jual bersih investor asing yang secara akumulatif mencapai Rp42,8 triliun sejak awal tahun, menambah tekanan pada valuasi dan pergerakan pasar saham nasional.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang dampak ketegangan di sekitar Selat Hormuz terhadap perekonomian Indonesia, kami menyoroti risiko lonjakan harga minyak yang dapat memperburuk neraca eksternal serta memicu volatilitas pasar keuangan global. Kami juga membahas potensi pelemahan rupiah akibat meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor energi, sekaligus risiko tekanan fiskal dan inflasi yang dapat membatasi ruang kebijakan domestik.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.