Edukasi literasi keuangan pengguna pindar diperkuat di Indonesia

Edukasi literasi keuangan pengguna pindar diperkuat di Indonesia
Penguatan literasi keuangan

Pertumbuhan pinjaman daring yang terus pesat mendorong kebutuhan penguatan edukasi pengelolaan keuangan bagi pengguna agar akses pembiayaan tidak berubah menjadi beban utang. Di Indonesia, regulator, asosiasi, dan pelaku fintech kini menekankan penggunaan pindar yang sehat dan produktif, seiring masih munculnya risiko gagal bayar dan perilaku finansial jangka pendek.

Sorotan

  • AFPI menggelar sekitar 700 kegiatan edukasi sepanjang 2025 untuk menekan gagal bayar dan meningkatkan kesehatan keuangan pengguna fintech lending.
  • Studi LPEM FEB UI menemukan lebih dari 89,2% pengguna AdaKami memahami perhitungan bunga pinjaman dan lebih dari 95% paham biaya serta tenor.
  • Meski literasi di atas 80%, riset menunjukkan 16% responden tetap mengambil pinjaman tanpa hitung kemampuan bayar, berpotensi risiko kredit meningkat.

Program edukasi dan temuan riset pengguna

Seperti diberitakan KONTAN, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia, AFPI, menyatakan sepanjang 2025 telah menggelar sekitar 700 kegiatan edukasi untuk mendorong kesehatan keuangan pengguna pinjaman daring dan mencegah fenomena gagal bayar. Direktur Eksekutif AFPI Yasmine Sembiring mengatakan kampanye anti-galbay terus diperkuat karena data keuangan pengguna kini tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan, SLIK, sehingga rekam jejak finansial dapat terlihat jelas.

Yasmine menegaskan masyarakat tidak boleh menjadikan gagal bayar sebagai pilihan karena pengelolaan pinjaman yang buruk justru dapat merugikan kondisi keuangan pengguna. Upaya edukasi itu berjalan seiring pertumbuhan layanan pindar yang membuat akses pembiayaan semakin mudah bagi masyarakat.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, LPEM FEB UI, dalam kajian tentang dampak fintech lending terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia juga menemukan sebagian pengguna platform memiliki tingkat literasi keuangan yang cukup baik. Dalam studi kasus AdaKami, lebih dari 89,2% responden memahami cara menghitung bunga pinjaman, sementara lebih dari 95% mengetahui perhitungan biaya dan tenor.

Peneliti Prani Sastiono menyatakan literasi keuangan pada seluruh kelompok yang diteliti sebenarnya sudah berada di atas 80%, tetapi pengguna AdaKami sedikit lebih unggul terutama dalam pemahaman bunga. Temuan ini menempatkan pengguna platform legal di atas pengguna pinjaman informal dan pinjol ilegal dalam sejumlah indikator pemahaman dasar keuangan.

Dampak pada risiko pembayaran dan industri fintech

Meski menunjukkan tingkat pemahaman yang relatif tinggi, riset itu juga mencatat kerentanan perilaku yang masih dapat memengaruhi kemampuan bayar rumah tangga. Sekitar 16% responden merasa mampu melunasi pinjaman tanpa menghitung kemampuan membayar, dan 73% mengaku memahami syarat pinjaman meski belum membacanya secara rinci.

Kecenderungan berorientasi jangka pendek juga masih terlihat, dengan sekitar 14% pengguna terdorong berbelanja saat diskon dan 7% bersedia membayar biaya tambahan demi pencairan cepat atau tertarik pada investasi berimbal hasil tinggi meski berisiko. Menurut Prani, pola perilaku seperti ini dapat berdampak langsung pada kesehatan keuangan rumah tangga dan kualitas pembayaran pinjaman.

Karena itu, LPEM FEB UI merekomendasikan agar regulator, asosiasi, dan pelaku industri terus memperkuat edukasi pengelolaan keuangan bagi pengguna pindar. Bagi industri fintech lending di Indonesia, dorongan ini menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas pembiayaan, meningkatkan penggunaan yang lebih bijak, dan menekan risiko kredit bermasalah di tengah ekspansi layanan digital.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang peluncuran Program PINTAR Reksa Dana dan Pekan Reksa Dana 2026, kami mengulas upaya regulator dan pelaku industri memperluas literasi serta partisipasi investor ritel melalui kebiasaan investasi terencana dan berkala. Program ini menekankan pentingnya disiplin investasi jangka panjang, termasuk pendekatan seperti setoran rutin yang memanfaatkan compounding dan Dollar Cost Averaging untuk membantu pencapaian target keuangan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.