Zurich Asuransi Indonesia perkuat tata kelola TI untuk hadapi risiko siber
Digitalisasi yang makin cepat di industri asuransi menempatkan risiko siber sebagai tantangan utama bagi pelaku usaha, di tengah peringatan regulator atas meningkatnya ancaman serangan digital. PT Zurich Asuransi Indonesia menyatakan penguatan keamanan siber, sistem teknologi informasi, dan tata kelola menjadi agenda strategis yang terus dijalankan untuk menjaga perlindungan data nasabah serta ketahanan operasional.
Sorotan
- Zurich Asuransi Indonesia meningkatkan infrastruktur, tata kelola, dan sistem TI untuk mengantisipasi risiko serta serangan siber, sesuai standar global Zurich Group.
- Perusahaan menetapkan keamanan siber dan kapabilitas TI sebagai prioritas investasi dengan alokasi anggaran memadai dan strategi investasi yang disesuaikan bisnis dan arahan regulator.
- OJK menyoroti lonjakan serangan siber pada sektor asuransi, termasuk insiden yang menghambat pelaporan keuangan, sehingga regulator menekan perlunya penguatan sistem digital.
Langkah penguatan sistem dan investasi keamanan
Kepada KONTAN.co.id, Direktur Operations Zurich Asuransi Indonesia Setio Dermawan mengatakan perusahaan mengantisipasi risiko tersebut melalui peningkatan sistem dan governance secara berkelanjutan. Ia menyebut Zurich telah menempuh sejumlah langkah konkret, mulai dari peningkatan infrastruktur dan sistem teknologi informasi, penguatan tata kelola serta manajemen risiko siber, hingga pemantauan dan pengujian keamanan secara berkala.Perusahaan juga meningkatkan kesadaran karyawan sebagai bagian dari mitigasi risiko. Menurut Setio, seluruh langkah itu dijalankan secara konsisten dan selaras dengan standar global Zurich Group serta ketentuan regulator.
Zurich menambahkan bahwa keamanan siber dan pengembangan kapabilitas TI menjadi prioritas investasi perusahaan. Alokasi anggaran disebut dijaga memadai dan berkelanjutan, sementara fokus investasi ke depan akan disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, perkembangan ancaman siber, dan arahan regulator.
Dorongan regulator bagi industri asuransi
Perhatian terhadap risiko siber di sektor perasuransian juga menguat dari sisi pengawasan. Otoritas Jasa Keuangan menyoroti meningkatnya ancaman serangan siber terhadap perusahaan asuransi, seiring ketergantungan industri yang semakin besar pada sistem digital.Sebelumnya, Deputi Komisioner Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Iwan Pasila mengungkapkan adanya kasus serangan siber yang menimpa perusahaan asuransi, termasuk yang menyasar pusat pemulihan bencana atau Disaster Recovery Center. Ia mengatakan serangan itu sampai membuat perusahaan tidak memiliki data yang memadai untuk menyusun laporan keuangan dengan baik, sehingga OJK mengingatkan pelaku industri untuk terus memperkuat sistem keamanan digital demi menjaga keberlangsungan operasional dan kepercayaan nasabah.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang cara memilih asuransi kendaraan untuk mobil listrik dan mobil bensin, kami mengulas perbedaan profil risiko utama—terutama pada baterai untuk EV serta mesin dan sasis untuk mobil konvensional—yang membuat kebutuhan cakupan polis tidak bisa disamakan. Ulasan itu juga menekankan pentingnya memahami pilihan skema TLO vs komprehensif serta menilai manfaat tambahan dan detail ketentuan polis agar perlindungan dan proses klaim lebih optimal.
Berita Mergers Terbaru
- Forex
- Crypto