Asei ungkap lini asuransi yang masih bergantung pada reasuransi luar negeri
Di tengah dominasi penempatan risiko ke reasuradur domestik, PT Asuransi Asei Indonesia menyatakan sejumlah lini bisnis masih membutuhkan dukungan reasuransi luar negeri karena besaran dan kompleksitas eksposurnya. Cakupan itu meliputi asuransi kredit perdagangan ekspor, marine cargo untuk pengangkutan internasional, suretyship dan customs bond tertentu, hingga property dan engineering bernilai pertanggungan besar.
Sorotan
- Produk asuransi kredit ekspor, marine cargo internasional, dan certain suretyship masih sangat bergantung pada kapasitas dan keahlian reasuransi luar negeri.
- Per Maret 2026, Asei melimpahkan 37,5% risiko ke PT Reasuransi Indonesia Utama dan 22,5% ke PT Maskapai Reasuransi Indonesia, menunjukkan dominasi reasuransi domestik.
- Dukungan reasuransi global tetap esensial untuk risiko besar, kompleks, atau berorientasi internasional karena keterbatasan kapasitas dan keahlian pasar domestik.
Jenis risiko dan kebutuhan kapasitas global
Seperti dilaporkan KONTAN, Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia Dody Dalimunthe mengatakan lini bisnis yang umumnya memanfaatkan reasuransi luar negeri mencakup asuransi kredit perdagangan khususnya ekspor, marine cargo khususnya pengangkutan internasional, serta suretyship dan customs bond tertentu. Menurut dia, kebutuhan itu juga muncul pada risiko property dan engineering dengan nilai pertanggungan besar, termasuk risiko khusus yang bersifat catastrophe atau accumulation risk.Dody menjelaskan produk asuransi perdagangan yang terkait ekspor menjadi salah satu lini yang menggunakan dukungan reasuransi luar negeri, terutama untuk transaksi dengan eksposur negara tujuan tertentu, buyer risk yang besar, maupun tenor perdagangan yang panjang. Dalam bisnis trade credit dan export credit insurance, reasuradur internasional dinilai memiliki pengalaman, basis data risiko global, serta kapasitas lebih luas untuk membaca country risk, political risk, dan default risk lintas negara.
Untuk perdagangan internasional, eksposur kerugian tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik, tetapi juga dinamika global seperti perang, geopolitik, krisis logistik, perubahan tarif perdagangan, hingga perlambatan ekonomi negara tujuan ekspor. Karena itu, dukungan reasuransi global dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan underwriting.
Dody menambahkan penempatan reasuransi ke luar negeri umumnya dilakukan untuk risiko dengan eksposur besar, kompleks, atau membutuhkan kapasitas yang belum sepenuhnya tersedia di pasar domestik. Dalam praktiknya, keterlibatan reasuradur luar negeri dapat menjadi bagian dari reasuransi treaty yang bersifat otomatis maupun penempatan reasuransi fakultatif yang dilakukan per kasus.
Komposisi penempatan risiko dan dampaknya bagi industri
Jika melihat laporan keuangan perusahaan di situs resmi per Maret 2026, Asei tercatat masih dominan menggunakan reasuransi dalam negeri. Sebanyak 37,5% risiko dilimpahkan kepada PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero), sementara 22,5% ditempatkan kepada PT Maskapai Reasuransi Indonesia.Komposisi tersebut menunjukkan ketergantungan pada reasuransi luar negeri masih terbatas pada lini yang memerlukan kapasitas, keahlian, dan pembacaan risiko lintas negara yang lebih dalam. Bagi industri asuransi umum, pola ini menandakan pasar domestik tetap menjadi penopang utama, sementara reasuradur global masih berperan pada segmen berisiko tinggi dan eksposur internasional.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang alasan penempatan risiko ke reasuransi luar negeri, kami mengulas bahwa langkah ini masih diperlukan untuk risiko dengan nilai pertanggungan besar dan akumulasi tinggi, sekaligus menjaga kesehatan neraca serta kecukupan modal (RBC). Kami juga menyoroti bahwa Asei tetap memprioritaskan reasuransi domestik, sementara dukungan reasuradur global dipakai untuk melengkapi kapasitas dan keahlian pada lini berisiko tinggi, sejalan dengan data industri yang menunjukkan sebagian premi reasuransi masih mengalir ke luar negeri.
Berita business Terbaru
- Forex
- Crypto