Indonesia catat permintaan beras dan pupuk naik di tengah gangguan perang Timur Tengah

Indonesia catat permintaan beras dan pupuk naik di tengah gangguan perang Timur Tengah
Permintaan beras melonjak

Gejolak perang di Timur Tengah mulai menekan ketahanan pasokan pangan dan jalur logistik global, termasuk distribusi energi yang terkait dengan produksi pupuk. Di tengah situasi itu, Presiden Prabowo Subianto menyatakan sejumlah negara kini meminta pasokan beras dan pupuk dari Indonesia.

Sorotan

  • Permintaan ekspor beras dan pupuk Indonesia meningkat akibat konflik Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global dan distribusi logistik internasional.
  • Penutupan Selat Hormuz memengaruhi pasokan bahan baku pupuk seperti urea karena 20 persen bahan bakar minyak dunia melewati jalur ini.
  • Indonesia memperkuat posisinya sebagai pemasok pangan dan input pertanian regional di tengah tekanan suplai dan permintaan internasional yang terdistorsi.

Permintaan ekspor muncul saat rantai pasok terganggu

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah dan rumah singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16/5/2026. Ia mengatakan kepanikan mulai muncul di banyak negara karena konflik di Timur Tengah memengaruhi pasokan pangan serta distribusi logistik internasional.

Prabowo menyoroti penutupan Selat Hormuz sebagai salah satu faktor yang memperberat tekanan pada rantai pasok global. Menurutnya, sekitar 20 persen bahan bakar minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga gangguan di kawasan itu ikut memengaruhi ketersediaan bahan baku pupuk, termasuk urea yang bergantung pada minyak dan gas.

Ia menambahkan telah menerima laporan dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman bahwa banyak negara meminta pupuk dari Indonesia. Selain pupuk, minat terhadap beras Indonesia juga meningkat di tengah ketidakpastian situasi internasional.

Posisi Indonesia dalam pasar pangan regional

Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan Indonesia berada pada posisi yang dapat membantu negara lain, meski pemerintah tidak ingin menanggapi situasi itu secara berlebihan. Sikap tersebut menunjukkan pasokan pangan dan input pertanian menjadi semakin strategis ketika konflik geopolitik mengganggu perdagangan global.

Bagi sektor pertanian dan pupuk, perkembangan ini dapat memperkuat peran Indonesia dalam memenuhi kebutuhan kawasan saat negara lain menghadapi tekanan pasokan. Pada saat yang sama, kondisi tersebut juga menegaskan bahwa gejolak energi, logistik, dan pangan kini saling terkait dalam membentuk permintaan ekspor komoditas dasar.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang ekspor perdana pupuk urea Indonesia ke Australia, kami mengulas pengapalan awal 47.250 ton sebagai bagian dari kerja sama antarpemerintah Indonesia–Australia. Kami juga menyoroti target komitmen ekspor yang ditingkatkan hingga ratusan ribu ton serta alasan ekspor dapat berjalan karena produksi urea nasional berada dalam kondisi surplus tanpa mengganggu kebutuhan domestik.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.