Apple (AAPL) kembali menjadi sorotan pasar dalam beberapa minggu terakhir setelah sahamnya ditutup di atas level $300 untuk pertama kalinya. Investor merespons positif laporan pendapatan kuartalan yang kuat: pendapatan melampaui ekspektasi Wall Street, segmen layanan mencatat rekor kuartal lagi, dan Apple mengumumkan program pembelian kembali saham senilai $100 miliar.
Artikel ini diterjemahkan dari aslinya. Baca versi asli oleh koresponden kami di sini.

Sinyal yang sangat penting adalah lonjakan tajam penjualan di China setelah beberapa kuartal yang lemah, sehingga mengurangi kekhawatiran tentang kehilangan pangsa pasar di tengah persaingan yang semakin ketat dari Huawei dan merek smartphone lokal.
AI tetap menjadi pertanyaan terbesar pasar
Meski harga saham melonjak, kecerdasan buatan masih menjadi faktor risiko utama bagi Apple. Investor tetap kritis terhadap keterlambatan pembaruan Siri dan siklus AI Apple yang lebih lambat dibandingkan Microsoft, Google, dan OpenAI. Di saat yang sama, pasar ramai membahas perubahan strategi Apple, karena sumber industri menyebut perusahaan semakin memperdalam kerja sama dengan Google Gemini untuk mempercepat pengembangan Apple Intelligence dan generasi Siri berikutnya. Langkah ini bisa memangkas kesenjangan teknologi Apple secara signifikan, namun juga menimbulkan kekhawatiran soal ketergantungan yang makin besar pada model AI pihak ketiga.
Tekanan tarif dan margin masih berlanjut
Tekanan tambahan terus datang dari risiko perdagangan dan tarif AS–China. Analis di Morgan Stanley dan beberapa bank lain sudah menurunkan proyeksi laba Apple, dengan alasan meningkatnya biaya produksi dan kemungkinan siklus pembaruan iPhone yang lebih lambat akibat penundaan peluncuran Siri berbasis AI penuh. Apple secara aktif memindahkan sebagian operasi manufakturnya ke India untuk mengurangi ketergantungan pada China, namun investor tetap khawatir margin bisa terus tertekan dalam beberapa kuartal mendatang.
Faktor penting berikutnya untuk AAPL
Pemicu utama berikutnya adalah WWDC 2026, di mana investor mengharapkan bukan sekadar pembaruan kosmetik, melainkan demonstrasi penuh ekosistem AI Apple. Pada tahap ini, pasar secara efektif memberikan "vote of confidence" berkat arus kas yang sangat besar, ekosistem yang sangat loyal, dan bisnis layanan yang kuat. Namun, potensi kenaikan harga saham selanjutnya kemungkinan akan lebih bergantung pada kemampuan Apple membuktikan bahwa AI bisa menjadi siklus pertumbuhan besar berikutnya untuk penjualan iPhone dan pendapatan layanan, daripada buyback dan stabilitas keuangan.
Prospek jangka pendek
Kemampuan saham bertahan di atas level $300 mengindikasikan potensi kenaikan ke kisaran $310–315. Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya di Apple bertahan di atas $295 karena permintaan beli saat harga turun tetap tinggi, aksi ambil untung pada posisi long saat harga naik tetap perlu diwaspadai. Jika harga kembali turun di bawah $300, bisa memicu koreksi ke area $295–290.
Berita Apple Terbaru
- Forex
- Crypto