Rupiah menguat di penutupan perdagangan Jakarta di tengah tekanan geopolitik dan ekspektasi suku bunga U.S.

Rupiah menguat di penutupan perdagangan Jakarta di tengah tekanan geopolitik dan ekspektasi suku bunga U.S.
Rupiah menguat di penutupan

Pergerakan pasar pada awal Juni menunjukkan rupiah ditutup lebih kuat terhadap dolar U.S. di tengah kewaspadaan investor atas risiko energi global dan arah kebijakan moneter. Mata uang Garuda naik 76 poin, atau sekitar 0,43%, ke Rp17.805 per dolar U.S. pada akhir perdagangan Senin, 1 Juni 2026.

Sorotan

  • Rupiah menguat di penutupan perdagangan Jakarta meski negosiasi gencatan senjata permanen antara Washington dan Teheran masih belum membuahkan hasil.
  • Ketegangan di Selat Hormuz—jalur seperlima minyak dan gas global yang tetap tertutup sejak Februari—mendorong harga minyak mentah pulih dan meningkatkan kekhawatiran pasar energi.
  • Kenaikan harga energi dan eskalasi regional memperkuat ekspektasi pengetatan moneter U.S., mengubah sentimen pasar valuta asing dan pergerakan rupiah.

Sentimen pasar dan pemicu penguatan

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, penguatan rupiah terjadi ketika pelaku pasar tetap mencermati negosiasi mengenai gencatan senjata permanen antara Washington dan Teheran yang masih belum menunjukkan banyak kemajuan. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan salah satu sentimen utama berasal dari kehati-hatian investor setelah isu penting dalam perundingan belum terselesaikan dan setiap kesepakatan akhir masih memerlukan persetujuan Presiden U.S. Donald Trump.

Dalam risetnya, Ibrahim menilai laporan pekan lalu memang menunjukkan kedua pihak sedang membahas perpanjangan gencatan senjata sementara serta pembukaan kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Namun, ketidakpastian atas hasil akhir perundingan membuat pasar tetap sensitif terhadap perkembangan kawasan.

Analis IG Tony Sycamore juga mencatat kekhawatiran meningkat terkait ranjau di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia. Kondisi itu berpotensi memperlambat proses pembukaan kembali jalur tersebut, sehingga bantuan terhadap pasar minyak dapat datang lebih lambat meski selat nantinya kembali dibuka.

Dampak energi global dan prospek kebijakan moneter

Menurut keterangan dalam teks, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima aliran minyak dan gas global, sementara Iran secara efektif telah menutupnya sejak konflik dimulai dengan serangan U.S. dan Israel pada Februari. Di saat yang sama, Israel juga memperluas operasi militernya di Lebanon terhadap Hizbullah yang didukung Iran, sehingga memicu kekhawatiran bahwa ketegangan regional dapat kembali meningkat.

Harga minyak mentah pulih pada Senin setelah langkah militer terbaru Israel, memperkuat kekhawatiran bahwa biaya energi dapat tetap tinggi. Situasi itu dapat mempersulit upaya Federal Reserve dalam menekan inflasi, sekaligus mendorong investor mengalihkan perhatian ke kemungkinan pengetatan moneter U.S. lebih lanjut.

Ibrahim menambahkan pasar sebelumnya mengharapkan pemotongan suku bunga sebelum perang dimulai. Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga tersebut kini menjadi faktor tambahan yang membentuk sentimen di pasar valuta asing, termasuk terhadap pergerakan rupiah.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan harga minyak akibat saling serang AS dan Iran, kami menyoroti bagaimana gencatan senjata yang rapuh tetap diuji oleh aksi militer terbatas. Laporan itu menekankan bahwa pasar memfokuskan perhatian pada peluang dibukanya kembali Selat Hormuz, karena kegagalan negosiasi dapat memperpanjang gangguan pasokan dan menjaga tekanan harga energi tetap tinggi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.