Saham bank besar diproyeksi kurang volatil pada awal Juni di tengah harapan arus asing kembali
Saham bank berkapitalisasi besar memasuki pekan pertama Juni 2026 dengan prospek volatilitas yang lebih rendah setelah tekanan jual pada pekan sebelumnya. Arah pergerakan berikutnya tetap bergantung pada meredanya dampak rebalancing MSCI dan peluang penguatan rupiah yang dapat menarik kembali minat investor asing.
Sorotan
- Volatilitas saham bank besar diproyeksi menurun pada awal Juni 2026 setelah tekanan dari rebalancing indeks MSCI mulai mereda.
- BBCA mencatat net sell asing terbesar Rp2,24 triliun dalam sepekan terakhir, diikuti BBRI Rp855,37 miliar, BMRI Rp813,26 miliar, dan BBNI Rp201,46 miliar.
- Hingga April 2026, BBCA membukukan laba bersih tertinggi Rp20,81 triliun, sedangkan BMRI Rp18,05 triliun, BBRI Rp15,89 triliun, dan BBNI Rp7,29 triliun.
Prospek perdagangan awal Juni
KONTAN melaporkan, analis memperkirakan pergerakan saham bank besar pada pekan ini masih dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik, namun gejolak harganya tidak setinggi pekan lalu. Senior Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pelemahan harga sebelumnya terutama dipicu oleh pengumuman rebalancing indeks Global Morgan Stanley Capital International, atau MSCI, dan efek volatilitas itu mulai mereda pada pekan pertama Juni 2026.
Menurut Nafan, masuknya kembali dana asing berpeluang terjadi jika tekanan dari faktor MSCI menurun. Ia juga menyebut pergerakan kurs rupiah menjadi penentu penting, karena penguatan rupiah dapat mendorong pembelian saham perbankan oleh investor asing.
Pada perdagangan sepekan lalu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat penurunan terdalam di antara bank besar, turun 3,39% menjadi Rp5.700. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 3,28% ke Rp2.950, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 2,12% ke Rp3.700, sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 0,97% menjadi Rp4.080.
Dampak arus asing dan penopang fundamental
Tekanan pada saham bank besar juga terlihat dari aksi jual investor asing yang masih berlangsung kompak. Dalam sepekan lalu, BBCA mencatat net sell terbesar senilai Rp2,24 triliun, disusul BBRI Rp855,37 miliar, BMRI Rp813,26 miliar, dan BBNI Rp201,46 miliar.Nafan menilai sektor perbankan memiliki korelasi erat dengan kondisi makroekonomi domestik, sehingga nilai tukar menjadi pemicu utama keputusan investor asing untuk sementara mengurangi eksposur. Meski demikian, ia tetap optimistis saham bank besar kembali menguat karena fundamental empat emiten tersebut masih solid.
Hingga April 2026, BBCA membukukan laba bersih terbesar sebesar Rp20,81 triliun, diikuti BMRI Rp18,05 triliun, BBRI Rp15,89 triliun, dan BBNI Rp7,29 triliun. Kinerja itu menjadi penopang utama bagi prospek pemulihan harga saham perbankan besar jika sentimen nilai tukar membaik dan aliran dana asing kembali masuk.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang penerapan aturan wajib penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA mulai 1 Juni 2026, kami membahas kewajiban eksportir (terutama nonmigas) memulangkan dan menempatkan dana ekspor di rekening khusus dalam negeri sesuai PP No. 21/2026. Kami menyoroti potensi kebijakan ini untuk menambah simpanan valas dan memperkuat likuiditas perbankan—khususnya bank-bank Himbara—meski dampak awalnya belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan saham saat itu.
Berita Banks Terbaru
- Forex
- Crypto