AAJI catat premi asuransi jiwa konvensional kuasai lebih 90% pasar pada kuartal I-2026

AAJI catat premi asuransi jiwa konvensional kuasai lebih 90% pasar pada kuartal I-2026
Konvensional dominasi premi

Kinerja premi industri asuransi jiwa Indonesia menunjukkan perbaikan pada awal 2026 setelah sempat tertekan dalam beberapa bulan terakhir. Pada kuartal I-2026, lini usaha konvensional tetap menjadi penopang utama pendapatan premi, meski total premi industri masih mencatat kontraksi tipis secara tahunan.

Sorotan

  • Pendapatan premi asuransi jiwa konvensional mencapai Rp 42,86 triliun pada kuartal I-2026, naik 4,6% dan menguasai 90,67% pangsa pasar.
  • Pendapatan premi unit usaha syariah turun 32,2% menjadi Rp 4,41 triliun pada kuartal I-2026, menandakan penyusutan signifikan pada segmen ini.
  • Total premi industri asuransi jiwa kuartal I-2026 sebesar Rp 47,27 triliun, turun 0,5% secara tahunan, dengan segmen konvensional tetap menjadi penopang utama.

Komposisi premi kuartal I-2026

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat pendapatan premi dari unit usaha konvensional mencapai Rp 42,86 triliun pada kuartal I-2026. Angka itu tumbuh 4,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyumbang 90,67% dari total premi industri asuransi jiwa sebesar Rp 47,27 triliun.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengatakan segmen konvensional masih mendominasi pendapatan premi industri. Menurut dia, kondisi itu menunjukkan segmen konvensional masih menjadi kanal utama perlindungan asuransi jiwa bagi masyarakat Indonesia.

Sebaliknya, unit usaha syariah membukukan pendapatan premi Rp 4,41 triliun pada kuartal I-2026. Nilai itu terkontraksi 32,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dampak bagi struktur industri asuransi jiwa

Meski premi syariah menurun, AAJI menilai segmen tersebut tetap penting dalam memperluas akses perlindungan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, asosiasi bersama regulator terus mengawal transformasi dan penguatan struktur industri.

Albertus menambahkan kesiapan implementasi agenda spin-off unit usaha syariah juga terus dipantau. Di tingkat industri, total pendapatan premi asuransi jiwa pada kuartal I-2026 tercatat Rp 47,27 triliun, turun tipis 0,5% secara tahunan, sehingga pertumbuhan bisnis konvensional masih menjadi penyangga utama pasar.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang hasil investasi industri asuransi jiwa pada kuartal I-2026, kami membahas tekanan volatilitas pasar keuangan yang membuat hasil investasi berbalik menjadi minus Rp 1,60 triliun. Kami juga menyoroti pergeseran portofolio yang tetap didominasi Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 248,03 triliun (43,4% dari total investasi), sementara porsi saham menurun dan instrumen lain seperti reksadana meningkat sebagai langkah defensif.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.