AAJI catat hasil investasi asuransi jiwa berbalik negatif pada kuartal I-2026
Volatilitas pasar keuangan pada awal 2026 menekan kinerja investasi industri asuransi jiwa di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. Pada kuartal I-2026, hasil investasi sektor ini tercatat minus Rp 1,60 triliun, berbalik dari surplus Rp 790 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sorotan
- AAJI mencatat hasil investasi industri asuransi jiwa sebesar minus Rp 1,60 triliun pada kuartal I-2026 akibat volatilitas pasar keuangan.
- Penempatan pada Surat Berharga Negara naik 15,8% year-on-year menjadi Rp 248,03 triliun, mendominasi 43,4% portofolio investasi asuransi jiwa.
- Total aset industri asuransi jiwa tumbuh 5,8% menjadi Rp 652,89 triliun, sementara total investasi naik 5,7% menjadi Rp 571,70 triliun pada kuartal I-2026.
Kinerja investasi dan pergeseran portofolio
KONTAN Indonesia melaporkan, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat hasil investasi industri asuransi jiwa sebesar minus Rp 1,60 triliun pada kuartal I-2026. Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri dan Internasional AAJI, Handojo G. Kusuma, mengatakan perkembangan tersebut dipengaruhi volatilitas pasar keuangan, baik di pasar saham maupun instrumen investasi lain yang sensitif terhadap dinamika ekonomi global dan domestik.
Dari sisi portofolio, Surat Berharga Negara tetap menjadi instrumen investasi terbesar dengan nilai Rp 248,03 triliun atau sekitar 43,4% dari total investasi. Nilai penempatan pada SBN naik 15,8% dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp 214,23 triliun.
Sementara itu, investasi pada saham tercatat Rp 112,64 triliun, turun 5,9% secara tahunan. Porsi saham terhadap total investasi juga menyusut dari 22,1% menjadi 19,7%, sedangkan investasi pada reksadana naik 10,2% menjadi Rp 72,45 triliun dan investasi pada sukuk korporasi tumbuh 3,4% menjadi Rp 53,43 triliun.
Fundamental industri masih terjaga
Di tengah hasil investasi yang negatif, AAJI menilai fundamental industri asuransi jiwa masih terjaga. Hal itu tercermin dari total aset industri yang mencapai Rp 652,89 triliun pada kuartal I-2026, naik 5,8% dibandingkan Rp 616,85 triliun pada periode yang sama tahun lalu.Total investasi industri asuransi jiwa juga meningkat 5,7% secara tahunan menjadi Rp 571,70 triliun dari Rp 540,91 triliun. Menurut Handojo, komposisi portofolio tersebut menunjukkan industri tetap menerapkan strategi investasi yang terdiversifikasi dengan porsi kuat pada instrumen pendapatan tetap yang relatif stabil.
Kondisi ini menunjukkan tekanan jangka pendek pada hasil investasi belum menggerus basis aset dan penempatan dana industri. Kenaikan porsi instrumen berpendapatan tetap juga mencerminkan langkah defensif pelaku asuransi jiwa dalam menghadapi gejolak pasar.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang dominasi Surat Berharga Negara (SBN) dalam portofolio investasi asuransi jiwa pada kuartal I-2026, kami menyoroti bahwa penempatan di SBN mencapai Rp 248,03 triliun atau 43,4% dari total investasi Rp 571,70 triliun. Kami juga mencatat penurunan porsi saham menjadi 19,7% dan kenaikan reksadana, yang mencerminkan strategi diversifikasi serta kecenderungan defensif industri di tengah dinamika pasar.
Berita AUD/USD Terbaru
- Forex
- Crypto