Indonesia kembangkan vaksin mRNA DBD untuk produksi dalam negeri
Indonesia sedang mendorong pengembangan vaksin berbasis mRNA untuk demam berdarah dengue sebagai bagian dari penguatan riset kesehatan dan kapasitas produksi farmasi nasional. Prototipe vaksin diluncurkan pada Rabu, 8 Juli 2026, namun tahap berikutnya masih memerlukan pengujian dan uji klinis sebelum dapat digunakan lebih luas.
Sorotan
- Indonesia meluncurkan prototipe vaksin mRNA dengue pertama pada 8 Juli 2026 yang dikembangkan bersama Universitas Indonesia, Tsinghua University, Etana, BRIN, BPOM, dan LPDP.
- Proyek vaksin mRNA DBD didanai Rp7 miliar oleh LPDP dan Rp9 miliar oleh Etana, total Rp16 miliar untuk pembelian prototipe dan uji klinis.
- Pengembangan vaksin ini berpotensi memperkuat kapasitas produksi vaksin dalam negeri dan memperluas posisi Indonesia di riset penyakit tropis global.
Pengembangan prototipe dan pendanaan riset
Seperti diberitakan Kompas.com, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Taruna Ikrar, mengatakan Indonesia sedang meneliti dan mengembangkan vaksin mRNA untuk DBD dan mengeklaim proyek itu berpotensi menghasilkan vaksin pertama di dunia untuk penyakit tersebut. Ia menyampaikan pernyataan itu di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada Rabu, 8 Juli 2026.Taruna mengatakan peluncuran prototipe vaksin mRNA dengue yang dilakukan hari itu masih menjadi langkah awal. Menurut dia, proses pengembangan vaksin masih membutuhkan serangkaian tahapan, termasuk pengujian dan uji klinis, sementara BPOM akan memastikan produk yang dihasilkan aman dan bermutu.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pengembangan vaksin ini melibatkan Universitas Indonesia, Tsinghua University, Etana, BRIN, BPOM, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, atau LPDP. Ia menyatakan, jika riset itu dapat diselesaikan, vaksin tersebut dapat menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia.
Dampak bagi industri kesehatan Indonesia
Direktur Fasilitas Riset LPDP Ayom Widipaminto mengatakan lembaganya ikut mendanai penelitian vaksin tersebut sebesar Rp7 miliar, sementara Etana menyiapkan Rp9 miliar. Menurut dia, total Rp16 miliar itu didedikasikan untuk pembelian prototipe dan pelaksanaan uji klinis.Kolaborasi antara regulator, perguruan tinggi, lembaga riset, pendana publik, dan industri farmasi menunjukkan upaya membangun ekosistem inovasi vaksin di Indonesia. Jika pengembangan ini berhasil melewati tahapan keamanan dan mutu, proyek tersebut berpotensi memperkuat kemampuan produksi vaksin dalam negeri sekaligus memperluas peran Indonesia dalam riset penyakit tropis.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang draf RUU Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas), kami membahas penguatan ketentuan mandatory spending 20% anggaran pendidikan agar penggunaan APBN/APBD tetap tepat sasaran di sektor pendidikan. Kami juga menyoroti perluasan wajib belajar menjadi 13 tahun, penguatan kurikulum (termasuk muatan teknologi dan Pancasila), serta pembaruan tata kelola seperti pendidikan inklusif dan bab pencegahan kekerasan di satuan pendidikan.
- Forex
- Crypto