Saham big banks terpukul saat IHSG jatuh, BBCA memimpin penurunan
Tekanan pada saham perbankan berkapitalisasi besar makin dalam pada penutupan perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, seiring pelemahan IHSG dan derasnya aksi jual investor asing. Di kelompok ini, BBCA mencatat koreksi terdalam dan turun ke level terendah sejak Oktober 2021, sementara analis melihat pemulihan sektor sangat dipengaruhi penguatan rupiah.
Sorotan
- Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 5,15% ke Rp 5.525, memimpin penurunan big banks saat IHSG jatuh pada Rabu (3/6/2026).
- Investor asing mencatat net sell pada BBCA sebesar Rp 686,16 miliar, BBRI Rp 427,54 miliar, dan BBNI Rp 27,95 miliar, sementara BMRI mencatat net buy Rp 72,14 miliar.
- Penguatan atau pelemahan nilai tukar rupiah menjadi pemicu utama aksi jual asing di saham big banks, dengan sektor perbankan dinilai tetap prospektif untuk akumulasi bertahap.
Tekanan pasar dan arus dana asing
KONTAN melaporkan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun paling dalam di antara bank besar dengan penurunan 5,15% ke Rp 5.525 pada penutupan Rabu (3/6/2026). Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 5,05% ke Rp 3.570, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 4,61% ke Rp 2.900, sedangkan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,88% ke Rp 4.050.
Penurunan saham-saham big banks berlangsung bersamaan dengan aksi jual bersih investor asing. BBCA mencatat net sell terbesar senilai Rp 686,16 miliar, disusul BBRI Rp 427,54 miliar dan BBNI Rp 27,95 miliar, sementara BMRI justru membukukan net buy Rp 72,14 miliar.
Rupiah jadi penentu prospek pemulihan
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pergerakan saham big banks pada pekan ini sangat dipengaruhi nilai tukar rupiah. Menurut dia, sektor perbankan memiliki korelasi erat dengan kondisi makroekonomi domestik, sehingga pergerakan kurs menjadi pemicu utama investor asing melakukan offload.Nafan tetap optimistis saham bank besar dapat kembali menguat dalam beberapa waktu ke depan karena kinerja emiten perbankan masih solid hingga April 2026. Ia menilai BBCA dan BBNI sudah berada pada valuasi yang murah, sementara BBRI dan BMRI masih memiliki prospek yang baik berkat model bisnis yang mendukung.
Atas dasar itu, ia merekomendasikan investor melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham big banks. Menurutnya, sektor perbankan masih menjadi salah satu pilihan utama investor meski saat ini volatilitas pasar dan tekanan nilai tukar masih membebani pergerakan harga.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pergeseran komposisi simpanan perbankan pada April 2026, kami mencatat porsi simpanan rupiah menyusut sementara simpanan valuta asing terus bertambah berdasarkan data LPS. Pergeseran preferensi ke valas ini dinilai dapat memperkuat tekanan pada nilai tukar rupiah dan menjadi perhatian bagi likuiditas perbankan, terutama di tengah permintaan kredit yang masih lemah.
Berita Banks Terbaru
- Forex
- Crypto