OJK nilai kenaikan BI Rate menekan profitabilitas industri pergadaian

OJK nilai kenaikan BI Rate menekan profitabilitas industri pergadaian
BI Rate tekan pergadaian

Kenaikan BI Rate menjadi 5,25% menambah tekanan biaya pendanaan bagi perusahaan pergadaian yang bergantung pada pinjaman bank berbunga mengambang. Di saat yang sama, pengetatan kredit perbankan membuat produk gadai tetap dipandang sebagai sumber likuiditas yang relevan bagi masyarakat.

Sorotan

  • OJK menyatakan kenaikan BI Rate menekan profitabilitas industri pergadaian, khususnya yang memiliki pendanaan floating rate dari perbankan.
  • OJK mencatat penyaluran pembiayaan industri pergadaian per April 2026 mencapai Rp157,20 triliun, tumbuh 56,80% year-on-year.
  • Aset industri pergadaian per April 2026 tercatat Rp188,52 triliun, naik 53,50% dari Rp122,81 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dampak suku bunga terhadap pendanaan

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan menyatakan kenaikan BI Rate berpotensi memengaruhi industri pergadaian, terutama pada perusahaan yang memperoleh sumber pendanaan dari perbankan dengan skema suku bunga floating. Kepala Eksekutif Pengawas LPVM, LKM, dan LJK Lainnya OJK Agusman mengatakan kondisi ini terutama menekan sisi biaya dana dan lebih berdampak pada profitabilitas perusahaan dibanding langsung mengubah bunga kepada nasabah.

Dari sisi pelaku usaha, PT Pegadaian (Persero) menilai kenaikan suku bunga acuan menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi bisnis pergadaian. Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis Pegadaian Ferdian Timur Satyagraha mengatakan biaya dana memang berpotensi tertekan, namun produk gadai tetap menjadi instrumen likuiditas pilihan masyarakat di tengah pengetatan kredit perbankan.

Pegadaian menambahkan tren kenaikan biaya dana tidak dapat dihindari, tetapi perusahaan masih menjaga biaya pendanaan tetap kompetitif melalui diversifikasi sumber dana, mulai dari pinjaman perbankan hingga penerbitan obligasi dan sukuk. Strategi itu memungkinkan penerapan blended cost of fund sehingga dampak kenaikan suku bunga BI terhadap biaya pendanaan dapat dikelola lebih baik.

Pertumbuhan pembiayaan dan aset industri

Di tengah potensi tekanan margin, kinerja industri pergadaian masih menunjukkan ekspansi kuat. OJK mencatat penyaluran pembiayaan industri pergadaian mencapai Rp157,20 triliun per April 2026, tumbuh 56,80% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari total tersebut, pembiayaan terbesar disalurkan melalui produk gadai senilai Rp132,29 triliun, setara 84,15% dari seluruh pembiayaan industri. OJK juga mencatat nilai aset industri pergadaian per April 2026 mencapai Rp188,52 triliun, naik 53,50% dari Rp122,81 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Data itu menunjukkan permintaan terhadap layanan pergadaian tetap kuat meski biaya pendanaan berisiko naik. Bagi industri, kondisi ini berarti pertumbuhan bisnis masih terbuka, tetapi pengelolaan struktur pendanaan menjadi kunci untuk menjaga profitabilitas.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan BI Rate menjadi 5,50%, kami menjelaskan langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 bps untuk menopang stabilisasi rupiah dan menjaga inflasi 2026–2027 tetap dalam target. Kami juga menyoroti bahwa tekanan pada rupiah dipicu permintaan valas domestik dan arus keluar dana asing, sehingga pengetatan moneter diperlukan agar imbal hasil aset portofolio tetap kompetitif di tengah volatilitas global.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.