Summarecon Agung bagikan dividen Rp5 per saham setelah laba 2025 tumbuh
PT Summarecon Agung Tbk memutuskan membagikan dividen Rp5 per saham atau total Rp82,5 miliar dalam RUPST dan Public Expose yang digelar pada Rabu di Jakarta. Keputusan itu mengikuti kinerja operasional positif sepanjang 2025, ketika perseroan melampaui target marketing sales dan membukukan pertumbuhan pendapatan serta laba bersih.
Sorotan
- PT Summarecon Agung Tbk membagikan dividen Rp5 per saham dengan total Rp82,5 miliar, didorong laba bersih 2025 Rp1,20 triliun.
- Marketing sales 2025 mencapai Rp5,53 triliun, tumbuh 27% dan melampaui target Rp5 triliun, dengan pendapatan utama dari Unit Pengembangan Properti.
- Perseroan menegaskan fokus pada pengelolaan kas yang prudent dan pengembangan kota terpadu guna menopang pertumbuhan jangka panjang.
Kinerja 2025 menopang pembagian dividen
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, keputusan pembagian dividen ditetapkan PT Summarecon Agung Tbk dalam RUPST dan Public Expose yang berlangsung hari ini. Perseroan membagikan Rp5 per lembar saham, dengan total nilai Rp82,5 miliar, setelah mencatat marketing sales Rp5,53 triliun pada 2025, naik 27% dan melampaui target Rp5 triliun.Sepanjang 2025, Summarecon membukukan pendapatan Rp8,77 triliun, sementara laba bersih mencapai Rp1,20 triliun. Unit Pengembangan Properti, yang mencakup penjualan hunian, komersial, dan apartemen, mencatat pendapatan Rp5,51 triliun dan menjadi kontributor terbesar dengan porsi 63% terhadap total pendapatan perseroan.
Permintaan hunian tetap resilien
President Director Summarecon Adrianto P. Adhi mengatakan pasar hunian menengah dan menengah atas tetap menunjukkan resiliensi permintaan di tengah tantangan ekonomi yang masih berlangsung. Menurut dia, daya tarik itu ditopang kualitas pembangunan yang tinggi, konsep pengembangan kawasan terintegrasi, dan nilai investasi jangka panjang.Ke depan, perseroan menyatakan tetap menjaga pengelolaan kas secara prudent, mencermati perubahan pasar, dan berfokus pada pengembangan kota terpadu yang berkelanjutan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Summarecon untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang dampak kenaikan BI Rate ke 5,50% terhadap risiko KPR, kami membahas potensi tekanan suku bunga pada daya beli dan kemampuan debitur membayar cicilan. Meski begitu, BTN menilai kualitas portofolio KPR masih membaik, tercermin dari NPL KPR yang turun ke sekitar 2,8%, sambil tetap menargetkan pertumbuhan penyaluran KPR 9%–10% melalui underwriting dan mitigasi risiko yang lebih selektif.
Berita LPS Terbaru
- Forex
- Crypto