Kenaikan BI Rate ke 5,50% mulai menjadi perhatian PT Bank Tabungan Negara karena berpotensi menekan daya beli masyarakat dan kemampuan debitur membayar cicilan KPR. Di tengah risiko suku bunga yang lebih tinggi, bank ini menilai kualitas portofolio KPR masih membaik dan tetap menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit perumahan tahun ini.
Sorotan
- NPL KPR BTN turun menjadi 2,8% dari sebelumnya 3,2% didukung underwriting yang lebih prudent dan proses collection yang ditransformasi.
- BTN targetkan pertumbuhan penyaluran KPR tahun ini sekitar 9%–10% dengan fokus pada debitur yang memiliki repayment capacity baik.
- Pada kuartal I-2026, KPR non-subsidi BTN tumbuh 5,4% menjadi Rp112,56 triliun dan KPR subsidi tumbuh 7,7% menjadi Rp193,55 triliun.
Kualitas kredit dan strategi mitigasi
Seperti dilaporkan KONTAN, Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan kenaikan BI Rate menjadi faktor yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi kualitas kredit atau non performing loan KPR. Meski demikian, BTN menyatakan kualitas KPR sejauh ini masih menunjukkan tren perbaikan yang positif dan terkendali.Menurut Setiyo, NPL KPR BTN saat ini turun ke kisaran 2,8%, lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu di kisaran 3,2%. Perbaikan itu didukung underwriting yang lebih prudent, pemantauan debitur yang lebih intensif, serta transformasi proses collection.
BTN juga memperkuat mitigasi risiko melalui penyaluran kredit yang lebih selektif, penguatan early warning system, dan pendekatan collection yang lebih tersegmentasi sesuai profil risiko debitur. Bank ini mulai mendorong penyaluran KPR kepada nasabah dengan profil lebih kuat, termasuk nasabah payroll dan nasabah existing di ekosistem BTN.
Target pertumbuhan KPR di tengah tekanan bunga
Ke depan, BTN menyatakan tetap optimistis kualitas kredit KPR dapat dijaga membaik secara bertahap, meski tekanan suku bunga dan kondisi makro masih perlu diwaspadai. Untuk mendukung kualitas aset, bank ini menargetkan penyaluran KPR tahun ini tumbuh sekitar 9% hingga 10% dengan fokus pada debitur yang memiliki repayment capacity yang baik.Pada kuartal I-2026, BTN mencatat pertumbuhan KPR non-subsidi sebesar 5,4% secara tahunan menjadi Rp112,56 triliun. Sementara itu, KPR subsidi tumbuh 7,7% secara tahunan menjadi Rp193,55 triliun.
BTN juga menyatakan akan menaikkan bunga floating secara bertahap. Langkah ini menunjukkan bank berupaya menyeimbangkan pertumbuhan pembiayaan perumahan dengan pengelolaan risiko kualitas kredit di tengah lingkungan suku bunga yang lebih ketat.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang kenaikan risiko NPL KPR di tengah tren suku bunga yang lebih tinggi, kami mengulas bagaimana tekanan biaya dana mulai memengaruhi kualitas aset pembiayaan perumahan meski pertumbuhan KPR masih moderat. Kami juga menyoroti respons bank yang cenderung lebih selektif menyalurkan KPR serta menahan kenaikan bunga floating agar tidak cepat mengganggu kemampuan bayar debitur, termasuk catatan bahwa NPL KPR BTN turun ke kisaran 2,8% berkat penguatan underwriting dan mitigasi risiko.
Berita Japan Terbaru
- Forex
- Crypto