Bank waspadai kenaikan risiko kredit macet KPR di tengah suku bunga tinggi

Bank waspadai kenaikan risiko kredit macet KPR di tengah suku bunga tinggi
Risiko KPR naik di bank

Kenaikan suku bunga mulai mendorong peningkatan risiko kredit bermasalah pada pembiayaan perumahan, sementara pertumbuhan KPR industri masih bergerak moderat hingga April 2026. Data Bank Indonesia menunjukkan rasio NPL KPR naik menjadi 3,26% dengan outstanding kredit mencapai Rp 845,1 triliun, menandakan tekanan kualitas aset muncul bersamaan dengan permintaan yang tetap tumbuh terbatas.

Sorotan

  • Rasio NPL KPR mulai meningkat dan diperkirakan dapat terus naik hingga akhir tahun jika volatilitas makroekonomi berlanjut.
  • Pertumbuhan KPR masih diproyeksi positif meski melambat, didukung backlog perumahan tinggi dan pelonggaran Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial dari BI.
  • NPL KPR BTN turun ke 2,8% dari 3,2% year-on-year berkat underwriting lebih prudent, pemantauan debitur lebih intensif, dan penguatan mitigasi risiko.

Dampak bagi pertumbuhan KPR dan prospek industri

Meski rasio NPL mulai meningkat, Myrdal menilai peluang lonjakan tajam kredit macet KPR masih kecil karena fundamental kualitas kredit perumahan pada awal tahun masih cukup baik dan ditopang stimulus pemerintah. Namun, ia memperkirakan tren NPL KPR tetap berpotensi merayap naik hingga akhir tahun jika volatilitas makroekonomi berlanjut.

Di sisi pertumbuhan, ia masih optimistis penyaluran KPR tetap tumbuh positif meski berpotensi melambat dari ekspektasi awal tahun. Backlog perumahan yang masih tinggi dinilai tetap menjadi penopang utama permintaan, sementara pelonggaran Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial dari BI memberi ruang ekspansi bagi bank tanpa harus terlalu agresif mencari dana mahal.

Myrdal juga menilai mayoritas bank saat ini masih menahan kenaikan bunga floating KPR walaupun cost of fund mulai meningkat. Strategi itu kemungkinan terus dievaluasi dalam tiga hingga enam bulan ke depan bergantung pada kondisi likuiditas perbankan dan persaingan antarbank, karena kenaikan bunga floating yang agresif berisiko cepat merusak kualitas kredit portofolio yang sudah ada.

Secara terpisah, Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan kenaikan BI Rate memang perlu dicermati karena dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan kemampuan debitur membayar cicilan. Meski begitu, ia menyebut kualitas KPR BTN masih menunjukkan tren perbaikan, dengan NPL KPR BTN turun ke kisaran 2,8% dari sekitar 3,2% pada periode yang sama tahun lalu, didukung underwriting yang lebih prudent, pemantauan debitur yang lebih intensif, transformasi proses collection, serta penguatan mitigasi risiko yang lebih selektif dan tersegmentasi.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang kenaikan BI Rate menjadi 5,50%, kami membahas bagaimana bank menyesuaikan strategi di tengah tekanan rupiah dan kenaikan biaya dana. Kami menyoroti respons perbankan yang menekankan pengelolaan aset-liabilitas yang prudent, kecukupan likuiditas dan permodalan, serta kecenderungan penyaluran kredit menjadi lebih selektif untuk menjaga kualitas aset.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.