Maybank Indonesia siapkan penerbitan obligasi Rp 2 triliun untuk perkuat kredit
Bank Maybank Indonesia bersiap menghimpun dana hingga Rp 2 triliun melalui Obligasi Berkelanjutan Tahap I Tahun 2026 untuk memperkuat aset produktif dan penyaluran kredit. Penerbitan ini menjadi bagian dari skema Obligasi Berkelanjutan V dengan target total penghimpunan dana mencapai Rp 5 triliun dan jadwal pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 3 Juli 2026.
Sorotan
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) akan menerbitkan obligasi tahap pertama senilai maksimal Rp 2 triliun dengan tiga seri tenor, penawaran awal 10-18 Juni 2026.
- Obligasi ini mendapat peringkat idAAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia dan seluruh dana bersih akan digunakan untuk ekspansi penyaluran kredit dan aset produktif.
- Maybank Indonesia mencatat laba bersih 2025 Rp 1,7 triliun (naik 42,01%), rasio gross NPL turun menjadi 2,31%, dan CAR menguat ke 25,47%.
Rencana penerbitan dan jadwal penawaran
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) menyampaikan dalam keterbukaan informasi di BEI bahwa obligasi tahap pertama ini diterbitkan dengan nilai maksimal Rp 2 triliun. Dana hasil emisi, setelah dikurangi biaya penerbitan, dialokasikan untuk meningkatkan aset produktif perseroan, terutama penyaluran kredit.Dalam prospektus ringkas, obligasi tersebut ditawarkan dalam tiga seri dengan tenor 370 hari, tiga tahun, dan lima tahun. Obligasi ditawarkan pada 100% dari pokok obligasi, sementara pembayaran bunga dilakukan setiap tiga bulan.
Masa penawaran awal berlangsung pada 10 hingga 18 Juni 2026. Pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 3 Juli 2026, sementara instrumen ini memperoleh peringkat idAAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia, level tertinggi untuk kemampuan memenuhi kewajiban keuangan jangka panjang.
Dampak bagi penyaluran kredit dan posisi keuangan
Kapasitas pendanaan baru ini datang ketika Maybank Indonesia mencatat perbaikan kinerja dan kualitas aset pada 2025. Laba bersih tahun berjalan mencapai Rp 1,7 triliun, naik 42,01% dibandingkan Rp 1,2 triliun pada tahun sebelumnya, ditopang efisiensi biaya operasional dan penurunan beban provisi kredit.Laba sebelum pajak naik menjadi Rp 2,2 triliun dari Rp 1,6 triliun, sedangkan pendapatan bunga bersih tumbuh 1,64% menjadi Rp 7,2 triliun. Di sisi kualitas aset, rasio gross non-performing loan membaik menjadi 2,31% pada 2025 dari 2,88% pada 2024, sementara rasio net NPL turun menjadi 1,41% dari 1,54%.
Permodalan bank juga tetap solid dengan capital adequacy ratio sebesar 25,47% pada akhir 2025, meningkat dari 23,65% pada 2024. Rasio loan to deposit ratio tercatat 90,31% pada 2025, sedikit lebih tinggi dibandingkan 89,84% setahun sebelumnya, menunjukkan ruang intermediasi yang tetap terjaga seiring rencana ekspansi kredit.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang ketahanan sektor perbankan Indonesia hingga April 2026, kami menyoroti pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang masih kuat, disertai likuiditas serta kualitas aset yang relatif terjaga. Kami juga mencatat mulai munculnya tekanan pada segmen tertentu, seperti kenaikan NPL KPR, sehingga bank didorong mengelola likuiditas dan menyalurkan kredit lebih selektif agar ekspansi tetap berlanjut.
Berita MaxiTrade Terbaru
- Forex
- Crypto