SPBU Tangerang hadapi kelangkaan Pertalite setelah kenaikan harga Pertamax
Peralihan konsumsi bahan bakar di Kota Tangerang mulai menekan pasokan Pertalite di sejumlah SPBU setelah harga Pertamax naik. Gangguan ini diperparah keterlambatan distribusi dan pola pengiriman yang terpecah, sehingga stok di beberapa lokasi lebih cepat habis.
Sorotan
- Penjualan Pertamax di SPBU Tangerang turun sekitar 20 persen setelah harga naik menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, mendorong lonjakan permintaan Pertalite.
- Distribusi Pertalite ke SPBU kini sering dipecah dua rute masing-masing 8 kiloliter, menyebabkan stok lebih cepat habis dan pengiriman berikutnya terlambat hingga setengah hari.
- SPBU terpaksa menghentikan penjualan saat stok tersisa satu ton demi menjaga pompa, memicu keluhan konsumen dan tekanan operasional akibat penundaan pasokan dan respons pusat yang lambat.
Pergeseran permintaan dan hambatan distribusi
Seperti dilaporkan Kompas.com, kekosongan stok Pertalite mulai sering terjadi di sejumlah SPBU di Kota Tangerang seiring meningkatnya permintaan setelah harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026.Nurohman, pengawas di SPBU 34.151.16 Karang Mulya, Tangerang, mengatakan penjualan Pertamax turun sekitar 20 persen setelah kenaikan harga tersebut, sementara antrean pembeli Pertalite terus memanjang. Menurut dia, lonjakan permintaan itu tidak diimbangi kelancaran pasokan dari depot ke SPBU.
Ia menjelaskan pengiriman yang biasanya datang sekaligus sebanyak 16 kiloliter kini kerap dipecah menjadi dua rute masing-masing 8 kiloliter. Skema ini membuat stok lebih cepat habis di satu shift, sementara sisa pasokan berikutnya terlambat hingga setengah hari.
Dampak operasional bagi SPBU dan pengendara
Pihak SPBU, kata Nurohman, harus menghentikan penjualan saat stok di tangki tersisa sekitar satu ton untuk mencegah kerusakan mesin pompa. Jika pompa tetap beroperasi saat bahan bakar tidak lagi mencukupi, perbaikannya dapat menelan biaya puluhan juta rupiah.Kebijakan teknis itu memicu keluhan dari sebagian pengendara yang menilai SPBU sengaja menahan penjualan. Nurohman membantah anggapan tersebut dan menyebut penghentian layanan justru merugikan SPBU karena penjualan terhenti, sementara laporan ke pusat melalui WhatsApp disebut belum selalu memperoleh respons cepat.
Kondisi ini menunjukkan tekanan operasional di jaringan distribusi BBM ritel Tangerang, terutama ketika perpindahan konsumen dari bahan bakar nonsubsidi ke produk yang lebih murah terjadi dalam waktu singkat. Bagi pengendara, terutama pengguna harian seperti pengemudi ojek daring, kelangkaan stok berisiko menambah waktu pencarian BBM dan memperpanjang antrean di SPBU.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan harga Pertamax per 10 Juni 2026, kami mengulas lonjakan harga Pertamax di DKI Jakarta dan sekitarnya menjadi Rp16.250 per liter serta desakan DPR agar pemerintah dan Pertamina lebih transparan soal dasar penetapan harga BBM nonsubsidi. Kami juga menyoroti potensi efek lanjutannya, mulai dari tekanan pada daya beli kelas menengah hingga kenaikan biaya transportasi, logistik, dan risiko inflasi.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto