Warteg waspadai tekanan biaya saat harga Pertamax naik ke Rp16.250 per liter
Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax menambah risiko biaya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah, termasuk warung tegal yang bergantung pada belanja harian di pasar tradisional. Tekanan ini tidak hanya terkait mobilitas pelaku usaha, tetapi juga berpotensi merembet ke harga bahan baku pangan dan daya beli pelanggan utama warteg.
Sorotan
- Harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, meningkatkan beban operasional bagi pelaku usaha warteg yang menggunakan bahan bakar tersebut.
- Kenaikan harga Pertamax diprediksi memicu terjadinya efek domino berupa kenaikan harga bahan baku seperti cabai, bawang, minyak goreng, dan sayuran di pasar tradisional.
- Pelemahan daya beli masyarakat menambah risiko bagi omzet warteg karena konsumen utama cenderung sensitif terhadap perubahan harga, menekan margin usaha kecil.
Risiko kenaikan biaya operasional
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan. Menurut Ketua Komunitas dan Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni, kenaikan Pertamax tetap berpotensi memicu efek domino terhadap aktivitas ekonomi masyarakat karena pelaku usaha yang memakainya untuk mobilitas sehari-hari menghadapi beban operasional lebih tinggi.Mukroni mengatakan tambahan biaya tersebut cepat atau lambat dapat digeser ke harga jual komoditas pangan. Pelaku warteg diperkirakan segera menghadapi kenaikan harga bahan baku secara bertahap di pasar tradisional tempat mereka berbelanja setiap hari.
Dampak pada bahan baku dan omzet
Mukroni menilai warteg berpotensi menghadapi kenaikan harga berbagai bahan pokok, termasuk cabai, bawang, minyak goreng, dan sayuran. Kondisi itu dapat menekan margin usaha kecil yang umumnya memiliki ruang terbatas untuk menyerap kenaikan biaya.Selain biaya bahan baku, pelemahan daya beli masyarakat juga menjadi risiko bagi omzet warteg karena pelanggan utamanya berasal dari kelompok konsumen yang sensitif terhadap perubahan harga. Dalam kondisi seperti ini, pelaku usaha makanan kecil dapat terdorong menyesuaikan porsi lauk atau strategi penjualan untuk menjaga keberlanjutan usaha.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan harga Pertamax per 10 Juni 2026, kami membahas lonjakan harga di DKI Jakarta dan sekitarnya menjadi Rp16.250 per liter serta dorongan dari DPR agar pemerintah dan Pertamina memaparkan mekanisme penetapan harganya secara transparan. Kami juga menyoroti potensi efek lanjutannya terhadap inflasi melalui kenaikan biaya transportasi dan logistik, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto