Ashutosh Sureka

Tugu Insurance dinilai menjaga prospek pertumbuhan dan dividen di tengah transformasi industri

Tugu Insurance dinilai menjaga prospek pertumbuhan dan dividen di tengah transformasi industri
Tugu Insurance tetap tangguh

Di tengah tekanan pada industri asuransi nasional dan penurunan premi di sejumlah segmen, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) tetap menunjukkan fondasi modal dan kinerja operasional yang kuat pada kuartal I-2026. Kondisi ini menopang proyeksi pertumbuhan premi, laba, serta potensi dividen perseroan dalam beberapa tahun ke depan.

Sorotan

  • TUGU mencatat Risk Based Capital di atas 400% dan pendapatan jasa asuransi kuartal I-2026 naik 5,96% menjadi Rp2,6 triliun.
  • Sinarmas Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan pendapatan asuransi TUGU sekitar 9% per tahun, melebihi panduan manajemen 2026 sebesar 6%.
  • Rekomendasi beli saham TUGU dengan target harga Rp1.700 per saham didasari proyeksi pertumbuhan laba bersih 8%-9% dan rasio pembayaran dividen 50%.

Proyeksi kinerja dan kekuatan permodalan

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Sinarmas Sekuritas dalam risetnya menilai keunggulan utama TUGU berada pada permodalan yang sangat kuat, dengan Risk Based Capital (RBC) yang konsisten di atas 400%, jauh di atas ketentuan regulator dan rata-rata industri. Kondisi itu dinilai memberi ruang lebih besar bagi perusahaan untuk menanggung risiko besar dan kompleks, terutama pada segmen korporasi.

Pada kuartal I-2026, TUGU membukukan pendapatan jasa asuransi Rp2,6 triliun, naik 5,96% secara tahunan. Hasil jasa asuransi juga tumbuh 2,18% menjadi Rp461 miliar, sementara peringkat A- dari AM Best dinilai memperkuat posisi kompetitif perusahaan di mata reasuradur internasional dan menjaga akses terhadap kapasitas reasuransi berkualitas tinggi, terutama karena eksposur besar di segmen energi dan aviasi.

Ke depan, Sinarmas Sekuritas memperkirakan pertumbuhan bisnis TUGU tetap terjaga dengan dukungan pertumbuhan premi yang sehat dan disiplin pengelolaan risiko. Pendapatan asuransi diproyeksikan tumbuh sekitar 9% per tahun dalam jangka menengah, lebih tinggi dari panduan manajemen 2026 sebesar 6%, sedangkan rasio klaim dan utilisasi reasuransi diperkirakan tetap terkendali untuk mendukung peningkatan Insurance Service Result sejalan dengan implementasi PSAK 117.

Selain bisnis inti, TUGU juga memiliki portofolio investasi besar dan likuid dengan nilai sekitar Rp11 triliun. Kombinasi pertumbuhan premi, disiplin biaya, kontribusi pendapatan non-asuransi yang stabil, dan optimalisasi hasil investasi dinilai dapat menopang pertumbuhan laba berkelanjutan.

Posisi strategis di industri asuransi BUMN

Tim analis Sinarmas Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham sebesar 8% hingga 9% per tahun pada periode 2026-2030, dengan rasio pembayaran dividen 50%. Proyeksi itu membuat TUGU dinilai menawarkan prospek dividen yang menarik bagi investor.

Di sisi lain, perusahaan juga dipandang berada dalam posisi strategis di tengah wacana konsolidasi industri asuransi umum BUMN. Konsolidasi dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi, optimalisasi modal, dan daya saing industri, selama tetap memperhatikan spesialisasi serta keunggulan masing-masing perusahaan.

TUGU dinilai memiliki posisi kuat karena menjadi satu-satunya perusahaan asuransi umum afiliasi BUMN yang tercatat di bursa. Perseroan juga didukung modal yang kuat, kemampuan underwriting untuk risiko kompleks, serta posisi pasar yang dominan di segmen energi, offshore, aviasi, marine, dan engineering.

Jika pemerintah menerapkan model konsolidasi berbasis spesialisasi, TUGU berpotensi menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan. Berdasarkan penilaian Sinarmas Sekuritas, kombinasi kekuatan permodalan, kualitas underwriting, pertumbuhan bisnis yang sehat, dan potensi dividen yang kompetitif mendasari rekomendasi beli untuk saham TUGU dengan target harga Rp1.700 per saham, yang mencerminkan valuasi sekitar 0,57 kali price-to-book value untuk 2027.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang rebound IHSG yang kembali menembus level 6.000, kami mencatat penguatan indeks didorong akumulasi beli besar pada saham-saham BUMN di sektor tambang, perbankan Himbara, dan Telkom. Kami juga menyoroti bahwa pelonggaran suku bunga acuan Bank Indonesia ke 5,50% ikut memperkuat sentimen positif dan meningkatkan minat beli di pasar modal Indonesia.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.