Tarif bentor Pulau Tidung tertekan saat harga Pertamax naik
Kenaikan harga Pertamax di Pulau Tidung menekan penghasilan sopir becak motor yang bergantung pada wisatawan untuk perjalanan jarak pendek. Di tengah hilangnya pasokan Pertalite di pulau itu selama lebih dari setengah tahun, sebagian pengemudi mengatakan biaya satu liter bensin kini hampir menyamai ongkos sekali jalan.
Sorotan
- Harga Pertamax di Pulau Tidung mencapai Rp 21.000 per liter, melampaui tarif bentor per perjalanan sebesar Rp 20.000, menekan margin pengemudi.
- Pengemudi bentor tidak dapat beralih ke Pertalite karena BBM tersebut sudah langka selama lebih dari enam bulan di Pulau Tidung.
- Kenaikan harga Pertamax yang tidak diimbangi kenaikan tarif membuat pendapatan bersih pengemudi bentor di destinasi wisata Kepulauan Seribu berisiko menurun signifikan.
Keluhan pengemudi dan tekanan biaya operasional
Seperti dilaporkan Kompas.com, para sopir bentor di Pulau Tidung mengeluhkan kenaikan harga Pertamax karena biaya bahan bakar kini dinilai tidak sebanding dengan tarif angkut penumpang. Sahi, salah satu pengemudi, mengatakan ongkos sekali jalan sebesar Rp 20.000 sudah kalah oleh harga Pertamax yang mencapai Rp 21.000 per liter, sehingga pengemudi harus menutup selisih dari kantong sendiri.Ia mengatakan para sopir tidak dapat beralih ke Pertalite karena jenis BBM itu sudah tidak tersedia di Pulau Tidung dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung lebih dari setengah tahun, sementara ia juga belum ingin menaikkan tarif bentor bagi wisatawan dan hanya berharap harga Pertamax dapat kembali disesuaikan.
Pengemudi lain, Muhammad Said, mengatakan ia memahami harga BBM di wilayah pulau bisa lebih mahal daripada di daratan karena distribusinya memerlukan lebih dari satu moda transportasi. Namun, ia menilai kenaikan kali ini terlalu besar karena tidak lagi sebanding dengan pendapatan dari menarik penumpang.
Dampak pada layanan wisata dan ekonomi lokal
Tekanan biaya ini berisiko mempersempit margin usaha pengemudi bentor yang menjadi bagian dari layanan transportasi lokal di kawasan wisata Kepulauan Seribu. Jika harga BBM bertahan tinggi sementara tarif tidak berubah, pengemudi menghadapi penurunan pendapatan bersih pada setiap perjalanan.Muhammad Said juga menilai penyesuaian harga kali ini terasa lebih berat dibanding kenaikan sebelumnya, yang menurutnya biasanya hanya sekitar Rp 500 hingga Rp 1.000. Lonjakan yang lebih tajam membuat beban operasional bentor di Pulau Tidung semakin sulit ditutup dari tarif yang berlaku saat ini.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan harga Pertamax per 10 Juni 2026, kami membahas penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dipicu tekanan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah. Kami juga menyoroti potensi dampaknya terhadap inflasi dan daya beli, serta perlunya pemerintah mengelola risiko perpindahan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite agar pasar tetap stabil.
- Forex
- Crypto