Saham bank besar menguat, arus asing belum dukung tren jangka panjang
Saham bank-bank berkapitalisasi besar di Indonesia kembali menguat pada perdagangan pekan lalu setelah sempat tertekan dalam beberapa waktu terakhir. Penguatan ini sejalan dengan kenaikan IHSG, tetapi belum disertai katalis yang cukup kuat untuk menopang tren naik yang berkelanjutan di sektor perbankan.
Sorotan
- Saham bank besar menguat didorong buyback dan pembagian dividen, namun belum didukung arus dana asing yang masih mencatat pola net sell.
- Kenaikan saham perbankan berpotensi berkelanjutan jika investor asing mulai net buy, pasar global kondusif, dan rupiah stabil pada semester kedua 2026.
- Kenaikan selektif direkomendasikan pada BBCA, BBNI (trading buy), serta BMRI dan BBRI berkat valuasi, likuiditas, dan potensi pemulihan sentimen makro.
Dukungan asing dan prospek semester kedua
Andrey mengatakan dampak buyback dan pembagian dividen oleh bank-bank besar cenderung hanya menjadi sentimen jangka pendek hingga menengah. Untuk membentuk tren kenaikan yang lebih berkelanjutan, pasar masih memerlukan perbaikan sentimen makro, stabilisasi rupiah, dan kembalinya arus dana asing ke pasar saham Indonesia.Founder Republik Investor, Hendra Wardana, juga menilai arus dana asing memegang peran penting karena sektor perbankan merupakan tujuan utama investor asing. Menurut dia, pola net sell di sebagian besar saham bank besar menunjukkan investor asing belum kembali ke sektor ini secara menyeluruh dan masih memilih emiten dengan profil risiko yang dinilai lebih defensif.
Ke depan, peluang kenaikan saham perbankan masih terbuka jika kondisi pasar global lebih kondusif, rupiah stabil, dan tidak terjadi pelemahan ekonomi domestik yang signifikan. Jika investor asing mulai konsisten mencatat net buy pada saham-saham perbankan, sektor ini berpotensi menjadi motor utama pemulihan IHSG pada semester kedua 2026.
Meski demikian, Hendra mengingatkan investor tetap perlu mencermati risiko perlambatan kredit, potensi kenaikan rasio kredit bermasalah atau NPL, serta tekanan daya beli masyarakat. Ia menilai kenaikan saham bank dalam jangka pendek kemungkinan masih berlangsung secara selektif dan belum merata, dengan BBCA dan BBNI direkomendasikan trading buy, sementara Andrey memilih BMRI dan BBRI karena kombinasi valuasi, likuiditas, dan potensi pemulihan saat sentimen makro membaik.
Risiko kenaikan NPL kredit konsumer perbankan Indonesia menjadi sorotan dalam artikel kami sebelumnya, seiring tekanan inflasi, kenaikan harga BBM, dan suku bunga yang menekan daya beli serta kemampuan bayar rumah tangga. Kami mengulas tren perlambatan pertumbuhan kredit konsumsi dan respons bank yang makin selektif, termasuk pengetatan underwriting serta pengalihan fokus ke segmen yang dinilai lebih aman untuk menjaga kualitas aset hingga 2026.
Berita Banks Terbaru
- Forex
- Crypto